PT KA Logistik: Saat Ini Cikarang Dry Port yang Paling Menjanjikan

0
522

JAKARTA, presidentpost.id – Pengembangan Dry Port di Indonesia didukung banyak kalangan. Dry Port bisa menjadi solusi kemacetan di jalan sekaligus mempercepat proses pengeluaran atau masuknya petikemas ke kapal atau sebaliknya pemindahan petikemas keluar area pelabuhan dan dilakukan pemeriksaan kepabeanan di area dry port.

Gani Hartono, pengurus DPP Organda dalam diskusi “Evaluasi Kebijakan Pengembangan Dry Port” di Jakarta mengatakan, pengembangan dry port di Indonesia perlu didukung dan dikembangkan khususnya sebagai solusi mengatasi kepadatan lalu lintas di Jabodetabek dan Pelabuhan Tanjung Priok saat ini, Selasa (7/11).

“Barang-barang eskpor sudah diperiksa Bea Cukai Cikarang Dry Port dan dikirim ke Pelabuhan Tanjung Priok sudah beres. Petikemas bisa langsung masuk kapal dan dikapalkan ke negara tujuan. Sebaliknya, untuk komoditas impor, barang langsung dikeluarkan dari pelabuhan dan diperiksa di area dry port,” kata Gani.

Menurutnya, dry port juga bisa mengintegrasikan kawasan industri bahkan yang bisa dilalui jalur kereta api (KA), truk atau moda angkutan lainnya. Untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional, maka sektor transportasi serta pemeriksaan kepabeanan di Indonesia harus cepat, tepat dan akurat.

“Dengan begitu, akan memudahkan proses masuknya bahan baku ke industri serta proses ekspor produk industri seperti di Bekasi atau Tangerang. Dengan layanan yang cepat dan tepat, maka proses ekspor-impor nasional lebih cepat, biaya bisa ditekan dan akhirnya meningkatkan daya saing nasional,” jelas Gani.

Pendapat sama juga disampikan Robby Toni, wakil dari Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan dalam diskusi tersebut. “Pengembangan dry port di Indonesia akan lebih baik jika mampu mengintegrasikan berbagai moda transportasi, seperti KA, truk, bila perlu angkutan sungai. Selain itu, dry port harus dekat dengan kawasan industri serta area penumpukan petikemas,” kata Tonny serius.

Dry port itu bagus, papar Tonny. Tapi kalau saat ini hanya ada beberapa dry port yang eksis, salah satunya Cikarang Dry Port. Dia juga dinilai mempunyai peluang untuk berkembang lagi. Oleh karena itu, masalah itu yang harus dicarikan penyebabnya. “apa sebabnya dry port kurang berkembang? Kalah bersaing atau memang tidak didukung komoditas barang yang ditangani,” tanya pejabat Bea Cukai itu lagi.

Terkait dry port tersebut, Gogis wakil dari Direktur PT KA Logistik mengatakan, saat ini Cikarang Dry Port yang masih eksis dan dinilai paling menjanjikan. Cikarang Dry Port dekat dengan kawasan industri baik Bekasi, Cikarang serta Purakarta. Sedang Dry Port Gede Bage Bandung dinilai sangat lambat bahkan kalah bersaing dengan moda truk.

“Angkutan petikemas dengan KA tak bisa langsung door to door seperti truk. Persaingan antarmoda makin ketat, bahkan moda KA harus double handling sehingga memicu biaya tambahan lagi khususnya di area pelabuhan. Akibatnya, biaya angkutan petikemas khususnya dari Dry Port Gede Bage Bandung bahkan Cikarang Dry Port sering kalah dengan moda lainnya,” aku Gigis.

Kendati begitu, tambah dia, KA Logistik tak mau kehilangan akal. Manajemen KA Logistik terus menjalin kerja sama dan kemitraan khususnya dengan pihak industri dan pemilik barang lainnya agar mereka mau menggunakan KA Logistik terutama dari Cikarang Dry Port atau lainnya di Indonesia.

“KA Logistik siap kerja keras dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada pengguna jasanya,” tandas Gigis. (BRTT/TPP)