Hampir 60 Tahun Indonesia-Jepang, Menperin Tingkatkan Kolaborasi Industri

0
184
kemenperin.go.id

JAKARTA, presidentpost.id – Hampir enam dekade, Indonesia dan Jepang menjadi mitra strategis dalam upaya pembangunan ekonomi kedua negara. Oleh karena itu, diperlukan kelanjutan penguatan kerja sama bilateral yang saling menguntungkan, seperti pengembangan di sektor industri.

“Menjelang perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang pada 2018 nanti, kami ingin menjadikan momentum penting bagi kedua belah pihak untuk sama-sama memajukan perekonomian guna menyejahterakan rakyat,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta sebelum melakukan kunjungan kerja ke Jepang, Senin (16/10).

Selama enam hari, mulai tanggal 16-21 Oktober 2017, Menperin memiliki beberapa agenda pertemuan dengan para pelaku industri dan pemangku kepentingan terkait asal Negeri Sakura, di antaranya jajaran direksi Fujitrans Corporation, Mitsubishi Motors, JFE Steel, dan Sango Corporation.

Selain itu, delegasi Japan Indonesia Economic Committee (JIEC), The Japan External Trade Organization (JETRO), Nagoya Chamber of Commerce and Industry (NCCI), pemerintah daerah Aichi dan Ogawa, serta menghadiri Indonesia Investment and Business Forum (IIBF).

Menperin berharap, dari kegiatannya tersebut dapat tercapai kesepakatan bersama untuk menumbuh kembangkan sektor manufaktur melalui peningkatan investasi dan perluasan pasar. “Semoga semakin banyak kolaborasi yang terjalin antara pengusaha kedua negara sehingga bisa lebih berdaya saing dan saling melengkapi,” ujarnya.

Menteri Airlangga menegaskan, pihaknya selama ini tidak hanya mendorong penanaman modal dari perusahaan manufaktur Jepang skala besar, tetapi juga berupaya menggandeng kerja sama yang menyasar pada pengembangan teknologi dan inovasi, sumber daya manusia, serta industri kecil dan menengah (IKM) di Indonesia.

“Kami selalu sampaikan, Indonesia memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar, terutama di tingkat ASEAN. Untuk meningkatkan iklim investasi di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan beberapa paket kebijakan ekonomi yang tujuannya mempermudah usaha bagi para investor,” paparnya.

Menperin optimistis terhadap peningkatan arus investasi sektor industri yang akan masuk di Indonesia khususnya dari Jepang. Kemenperin mencatat, pada tahun 2016, penanaman modal asing secara keseluruhan tercatat mencapai USD16,68 miliar. Sedangkan, nilai investasi Jepang ke Indonesia sebesar USD5,4 miliar pada tahun 2016 atau naik 86 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai USD2,9 miliar.

Jumlah perusahaan Jepang di Indonesia hingga saat ini lebih dari 1.750 perusahaan, dengan kegiatan usahanya di bidang manufaktur, infrastruktur dan jasa. Beberapa sektor manufaktur Jepang yang cukup aktif berinvestasi di Indonesia, antara lain industri otomotif, logam, mesin dan elektronika.

“Hal ini lantaran pula didukung dengan banyaknya fasilitas penunjang dalam menjalankan bisnis di Tanah Air, meliputi deregulasi atau penyederhanaan kebijakan-kebijakan, pembangunan infrastruktur dan kawasan industri, serta pemberian insentif fiskal berupa tax allowance dan tax holiday,” ungkap Airlangga.

Guna menggaet investor Jepang, Kemenperin telah menggelar kegiatan Promosi Investasi Kawasan Industri Indonesia di Tokyo, Osaka, dan Yokkaichi City, Jepang, pada 13-15 September 2017. Pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin Imam Haryono menjadi pembicara utama.

Menurut Imam, pembangunan kawasan industri di Indonesia diprediksi meningkat dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun ke depan. Hal ini seiring langkah pemerintah mewujudkan Indonesia Sentris, salah satunya melalui pemerataan pembangunan kawasan industri.

“Kawasan industri baru yang kami tawarkan, di antaranya berada di pulau Jawa, yakni Karawang, Bekasi, Majalengka, Tangerang dan Sidoarjo.  Sementara itu, yang tersebar di luar Jawa, antara lain kawasan industri di Ketapang, Penajam Paser Utara, Deli Serdang, Simalungun, Muaro Jambi, dan Gorontalo Utara,” sebutnya.

Kerja sama Tiongkok

Sebelumnya, Menperin telah menyampaikan keunggulan industri manufaktur nasional kepada delegasi China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT) Shanghai. Delegasi tersebut berencana menyelenggarakan pameran impor di Shanghai, Tiongkok pada tahun 2018 dan sedang mengukur kemampuan sektor manufaktur di Indonesia yang potensial untuk dijajaki kerja sama dengan industri asal Negeri Tirai Bambu.

“Mereka melaporkan, sebagian industri di Tiongkok akan hijrah, dari manufacturing ke sektor jasa. Apalagi labor cost mereka sudah cukup tinggi, sehingga mereka melihat ada potensi sebagian pelaku industri Tiongkok akan pindah ke Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Jumat (13/10).

Menperin menjelaskan, Indonesia telah menyiapkan kawasan industri yang khusus untuk menampung industri dari Tiongkok. Kawasan tersebut berlokasi di Karawang dengan luas lahan sekitar 200 hekatre. “Kawasan tersebut akan mendukung beberapa sektor industri seperti otomotif, elektronika, sepatu, tekstil, pakaian, dan petrokimia,” sebutnya.

Airlangga menambahkan, investasi Tiongkok khususnya di sektor otomotif semakin berkembang pesat. Ada dua pabrik kendaraan asal Tiongkok yang telah beroperasi dengan nilai investasi sebesar Rp16 triliun dan sudah mampu menunjukkan hasil penjualannya cukup baik.

“Indonesia bisa menjadi basis produksi dan ekspor yang potensial, selain memiliki domestic market yang sangat besar. Bahkan, value chain industrinya sudah ada,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total investasi Tiongkok ke Indonesia sepanjang tahun lalu menempati posisi kedua terbesar dengan nilai USD1,07 miliar. Uang tersebut mengalir ke dalam negeri melalui 520 proyek.

Airlangga juga telah menawarkan kawasan industri lainnya, seperti di Tanah Kuning, Kalimantan Utara. Kawasan dengan luas mencapai 10 ribu hektare ini akan dijadikan pusat industri berbasis aluminium. Kawasan yang dilengkapi pelabuhan internasional ini pun akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai modal utama penarik investor. (KEMENPERIN/TPP)