Bank Dunia: Meningkatnya Pertumbuhan Global Berdampak Positif Bagi Negara Berkembang di Asia Timur dan Pasifik

0
139

BANGKOK, presidentpost.id – Meningkatnya prospek pertumbuhan global dan permintaan domestik yang terus berlanjut mendukung proyeksi yang positif bagi ekonomi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik, menurut laporan Bank Dunia terbaru mengenai kawasan ini. Pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di negara maju, pemulihan harga komoditas yang moderat, serta pemulihan pertumbuhan perdagangan global, merupakan faktor eksternal menguntungkan yang akan mendukung ekonomi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk berkembang sebesar 6,4 persen pada tahun 2017.

East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2017 melaporkan bahwa tingkat pertumbuhan pada tahun 2017 yang lebih tinggi dari perkiraan awal mencerminkan pertumbuhan Tiongkok yang lebih kuat, yaitu 6,7 persen, sama dengan tahun 2016. Di wilayah lainnya, termasuk ekonomi negara-negara Asia Tenggara yang besar, pertumbuhan pada tahun 2017 akan sedikit lebih tinggi dari 5,1 persen pada 2017 dan 5,2 persen pada 2018, naik dari 4,9 persen pada tahun 2016.

Beberapa risiko eksternal dan domestik dapat mempengaruhi proyeksi positif ini. Kebijakan ekonomi di beberapa negara maju tetap tidak pasti, sementara ketegangan geopolitik yang berpusat di wilayah tersebut meningkat. Kebijakan moneter di Amerika Serikat dan kawasan Euro bisa diperketat lebih cepat dari perkiraan. Banyak negara di kawasan ini memiliki utang sektor swasta dengan tingkat tinggi sementara defisit fiskal tetap tinggi atau sedang naik.

“Pulihnya ekonomi global dan perluasan perdagangan global membawa kabar baik bagi kawasan Asia Timur dan Pasifik juga keberhasilannya dalam memperbaiki taraf hidup,” kata Victoria Kwakwa, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik. “Tantangannya adalah bagi negara-negara untuk mencapai keseimbangan antara memprioritaskan pertumbuhan jangka pendek dan mengurangi kerentanan jangka menengah, sehingga wilayah ini memiliki fondasi yang lebih kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif.”

Upaya Tiongkok untuk mencapai keseimbangan baru, dengan mengurangi investasi dan menaikkan konsumsi masyarakat, diperkirakan akan berlanjut, membuat proyeksi pertumbuhan melambat menjadi 6,4 persen pada tahun 2018.

Thailand dan Malaysia diproyeksikan akan tumbuh lebih cepat dari perkiraan, karena ekspor yang lebih kuat, termasuk pariwisata untuk Thailand, dan peningkatan investasi untuk Malaysia. Kenaikan upah riil mendorong konsumsi kuat di Indonesia, dan kembali menguatnya sector pertanian dan manufaktur mendorong pertumbuhan Vietnam. Ekonomi Filipina diproyeksikan akan berkembang sedikit lebih lambat daripada tahun 2016, sebagian akibat pelaksanaan proyek-proyek investasi publik yang implementasinya lebih lambat dari perkiraan.

Proyeksi untuk negara-negara lebih kecil bervariasi. Ekonomi Mongolia dan Fiji diperkirakan akan naik lebih baik pada periode tahun 2017-2018. Program stabilisasi makroekonomi Mongolia mendorong investasi langsung luar negeri baru dalam pertambangan dan transportasi. Pertumbuhan Fiji akan didukung oleh rekonstruksi pasca Topan Winston. Pertumbuhan di Kamboja dan Laos relatif moderat dibanding tahun 2016, namun tetap lebih tinggi daripada negara-negara lain di kawasan ini; perdagangan dan investasi langsung luar negeri di Kamboja dan perluasan sektor listrik di Laos menjadi pendorong utama.

Perluasan pariwisata, harga komoditas dunia yang rendah, pendapatan yang tinggi dari biaya penangkapan ikan, serta meningkatnya aktivitas konstruksi mendukung tingkat pertumbuhan PDB moderat di sebagian besar negara kecil Kepulauan Pasifik. Dalam jangka panjang, reformasi sektor pariwisata, perpindahan tenaga kerja, perikanan, dan ekonomi berbasis pengetahuan berpotensi menghasilkan pendapatan, pekerjaan, dan pendapatan pemerintah yang jauh lebih tinggi.

“Prospek pertumbuhan global yang membaik menawarkan peluang bagi negara-negara untuk mengurangi kerentanan sambil mengupayakan reformasi yang bisa menghasilkan dividen pertumbuhan dalam jangka panjang,” kata Sudhir Shetty, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik. “Mengurangi risiko terhadap stabilitas sektor keuangan dan penguatan daya saing, termasuk melalui integrasi regional yang lebih dalam, tetap menjadi prioritas.”

Untuk menjaga ketahanan terhadap risiko, laporan tersebut menyerukan untuk mengambil langkah kebijakan yang tujuannya bukan pertumbuhan jangka pendek untuk mengatasi kerentanan fiskal dan sektor finansial. Langkah-langkah tersebut mencakup: memperkuat pengawasan dan peraturan kehati-hatian di negara-negara yang mengalami pertumbuhan pesat dalam kredit dan utang sektor swasta; mereformasi kebijakan dan administrasi pajak untuk membantu meningkatkan pengumpulan pendapatan; dan siap untuk memperketat kebijakan moneter jika didukung oleh laju kenaikan suku bunga di negara maju.

Prioritas reformasi struktural berbeda antar negara. Reformasi berkelanjutan sektor badan usaha milik negara di Tiongkok dan Vietnam bisa memperbaiki prospek pertumbuhan. Filipina, Thailand, Laos dan Kamboja akan memperoleh manfaat dari berlanjutnya perbaikan sistem pengelolaan investasi publik untuk mendukung perluasan program infrastruktur publik. Di Indonesia, liberalisasi regulasi investasi luar negeri tetap penting.

Laporan ini juga menyoroti potensi pengembangan pariwisata dan integrasi regional yang lebih dalam untuk mengimbangi risiko proteksionisme. Pertumbuhan pariwisata, jika dikelola dengan baik, berpotensi menghasilkan banyak manfaat bagi kawasan ini, termasuk bagi negara-negara Kepulauan Pasifik. Masyarakat Ekonomi ASEAN menawarkan satu jalan untuk semakin memperkuat integrasi regional, termasuk dengan mendorong liberalisasi perdagangan jasa serta mengurangi hambatan non-tarif.

Meskipun berhasil mengurangi kemiskinan, ketimpangan yang tinggi dan terus meningkat semakin mengkhawatirkan, seperti halnya mobilitas yang menurun dan bertambahnya keresahan ekonomi. Untuk pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan, langkah-langkah untuk mengurangi kemiskinan ekstrem harus disertai dengan kebijakan yang memperluas akses terhadap layanan bermutu dan pekerjaan yang lebih produktif, juga sistem perlindungan sosial lebih kuat yang mengurangi konsekuensi guncangan yang merugikan.