Gubernur Jateng: Batik Tak Lagi “Ndeso”

0
124
jatengprov.go.id

BANYUMAS, presidentpost.id – Sejak batik ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia 2 Oktober 2009 lalu, industri batik kian berkembang. Bahkan kini banyak anak muda yang mulai tertarik mendesain batik. Salah satu desain batik karya anak muda itu dikenakan Gubernur Jateng (Jawa Tengah) H Ganjar Pranowo SH MIP saat acara Gubernur Mengajar di SMAN 1 Sokaraja, Senin (2/10).

Batik yang dia kenakan bermotif daun jati dan potongan batangnya, berwarna hijau lumut. Orang nomor satu di Jawa Tengah itu mengaku, dia memesan batik itu secara online, dari seorang anak muda yang berasal dari Blora.

“Baju Pak Gub ini buatan anak muda yang habis lulus S1. Ini gambar batang pohon dan daun jati. Dia juga desain bambu. Banyak hal dia desain dan pesanan saya dibuatkan bagus,” bebernya kepada ratusan siswa.

Baju batik, menurut Ganjar, saat ini menjadi baju yang paling luwes untuk dikenakan pada moment apapun. Pegawai negeri maupun swasta, kini banyak yang mengenakan batik untuk bekerja. Baju batik juga dikenakan saat menghadiri resepsi. Imej ndeso dan aneh yang dulu pernah ada, saat ini sudah terkikis.

“Sekarang batik sudah menjadi sesuatu yang biasa, bisa dibuat modis. Dulu orang memandang aneh, pakai bawahan jeans tapi mengenakan atasan batik. Atau mengenakan baju batik tapi dimasukkan di baju bawahan. Ndeso, wagu. Hari ini oke,” katanya memberikan motivasi kepada para siswa.

Pameran batik, imbuhnya, juga sudah mendunia. Masyarakat dunia bisa menjumpai pameran batik di Milan, Spanyol, New York, London, dan Rusia. Masyarakat dunia pun, sudah mengenakannya, termasuk mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela.

Berkembangnya industri batik, lanjutnya, mesti diiringi ketersediaan SDM. Karenanya, Ganjar mengapresiasi SMAN 1 Sokaraja yang mau memberikan pendidikan berbasis keunggulan lokal batik sejak 2008. Melalui pendidikan tersebut, akhirnya memunculkan desain batik yang banyak sekali dari para desainer muda.

“Soal kurang, soal belum baik, itu adalah proses belajar. Maka, saya menyarankan, coba media belajarnya ditambah. Sudah tambah tadi, payung batik,” tuturnya.

Kepala SMAN 1 Sokaraja Edy Prasetyo mengatakan, batik dipilih menjadi unggulan lokal sekolahnya karena daerah Sokaraja terkenal dengan batiknya. Untuk melestarikannya, perlu menumbuhkan minat para generasi muda.

“Kami sadari, batik perlu dilestarikan oleh generasi muda. Tapi kami menyadari hanya sedikit yang minat menekuni batik. Karena itu kami ingin semua lulusan punya ketrampilan membatik. Ini bukan ekstrakurikuler, ini betul-betul pelajaran, sehingga wajib tiap anak mengikuti pelajarannya, mulai dari kelas X sampai XII,” urainya.

Program sekolah tersebut, kata Ganjar, mendapatkan dukungan dari perajin batik. Mereka mendukung dengan mengajarkan ilmu membatik kepada para siswa. Ditambahkan, pihak sekolah juga menunjang ketrampilan siswa dengan proses sertifikasi ketrampilan batik bekerjasama dengan LPK yang sudah mendapat lisensi dalam uji ketrampilan batik dari pemerintah. Sehingga, lulusan SMAN 1 Sokaraja mendapat jaminan keterampilan membatik. (JATENGPROV/TPP)