Menpar: Tol Serang-Panimbang Selesai 2019, Ketika Itulah Tanjung Lesung Akan ‘Meledak’

0
233

CIKARANG, presidentpost.id – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menghadiri acara Presidential Lecture di kampus President University didampingi oleh Deputi BPKK H.M Ahman Sya. Acara kuliah umum tersebut mengangkat tema Indonesian Tourism & Entrepreneurship between Local Business Creation & Global Competition yang diikuti oleh 450 orang mahasiswa dan dosen di Himawan auditorium President University Jababeka Cikarang, Bekasi, pada Senin (25/9). Menpar sebelumnya juga sempat ke acara Festival Pesona Tanjung Lesung, dimana tempat tersebut dikelola oleh Grup Jababeka pada 22 September lalu.

Dalam Presidential Lecture tersebut, Menpar menyampaikan presentasi berjudul “Between Local Business Creation and Global Competition” menekankan mengajak anak muda untuk berpartisipasi dalam pengembangan sektor Pariwisata sebagai sektor pembangunan bangsa Indonesia yang paling prospektif di masa depan.

Pada sesi pertanyaan, Menpar ditanyakan mengenai potensi investasi di Tanjung Lesung. Menpar pun menjawab, “Market utama Tanjung Lesung adalah Jakarta, ketika orang Jakarta sangat susah kesitu maka gak akan laku. Mengenai tol Serang-Panimbang, saya rekonfirmasi ke Pak Basuki (Menteri PUPR) sebelum pidato, katanya beliau konstruksinya akan mulai 2018 dan selesai 2019.”

“Nah ketika itulah akan ‘meledak’ Tanjung Lesung, menguntungkan apa tidak kalau mereka masuk sekarang dan menunggu selama 2 tahun? Kalau mereka masuk setelah 2 tahun ya too late,” ujarnya.

Menpar menambahkan, “Kalau sekarang harganya 1 juta, mungkin nanti bisa sampai 5 juta.”

 

Menpar juga menyebutkan mengenai Morotai yang juga dikelola oleh Grup Jababeka, dimana kalau bandara yang ada tersebut tidak internasional maka pasti tidak laku.

“Sekarang terminalnya sudah selesai, tahun depan runwaynya selesai. Jadilah bandara Morotai menjadi bandara internasional. Begitu sudah menjadi bandara internasional, maka relatif kita mudah ‘menjual’ Morotai ke negara-negara di pasifik seperti China, Taiwan dan Jepang. Karena sangat dekat, mungkin 3 jam penerbangan ke Morotai,” tambahnya.

Menpar pun menyebutkan mengenai Danau Toba, yang aksesibilitasnya butuh 6 jam. Yang akhirnya dibangun Bandara Silangit yang statusnya internasional sehingga menyelesaikan permasalahan akses tersebut.

“Untuk Indonesia, 3A (Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas) yang Atraksi bisa diabaikan. Indonesia bagus semua. Tapi yang Aksesibilitas selalu menjadi masalah. Turis tidak akan mau ke sebuah destinasi jika perjalanannya lebih dari 2 jam,” pungkasnya.(TPP)