Kemenperin Pacu Industri Otomotif Nasional Kembangkan Teknologi dan Selera Masyarakat

0
281
kemenperin.go.id

TANGERANG, presidentpost.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memacu industri otomotif nasional untuk terus mengembangkan kendaraanyang mengikuti teknologi dan selera konsumen. Selain itu, untuk mampu berkompetisi di pasar global, produk otomotif juga harus memenuhi aspek keamanan, kenyamanan, hemat bahan bakar, ramah lingkungan, serta memiliki harga terjangkau.

“Jika sekarang kita masih mengembangkan LCGC, negara-negara lain mulai melirik kendaraan bertenaga listrik bahkan telah menciptakanyang berbahan bakar hidrogen karena jauh lebih hemat energi dan ramah lingkungan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Kamis, (10/8).

Untuk itu, Menperin menegaskan, pihaknya telah menyelesaikan penyusunan regulasibaru tentang industri kendaraan bermotor roda empat atau lebihyang sebelumnya tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 59 Tahun 2010 tentang Industri Kendaraan Bermotor.

“Kebijakan dan program pengembangan industri kendaraan bermotor ke depan harus diarahkan dan diakselerasi sesuai dengan tren pasar dunia, yaitu kendaraan bermotor dengan fuel ekonomi tinggi dan rendah karbon,” tuturnya.

Airlangga menyebutkan, kendaraan rendah emisi atau low carbon emission vehicle (LCEV) ditargetkan masuk pasar Indonesia mencapai 25 persen atau 400 ribu unit pada tahun 2025. “Bentuknya bisa mobil listrik, hibrida atau lain sebagainya. Pemerintah tengah melakukan harmonisasi PPnBM, dan akan memberikan insentif lebih untuk mobil LCEV, dibanding kepada mobil konvensional,” ungkapnya.

Airlangga juga menyampaikan, industri otomotif merupakan salah satu sektor yang menjadi tolok ukur dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Saat ini produksi otomotif kita meningkat, yang membuktikan daya beli masyarakat masih bertenaga. Industri ini masih tumbuh dan ekonomi kita juga masih terjaga di level lima persen. Maka, artinya ekonomi Indonesia masih kuat,” paparnya.

Lebih lanjut, Airlangga menambahkan, optimisme terhadap industri otomotif juga terlihat dari jumlah ekspor kendaraan yang terus mengalami kenaikan. “Pada tahun 2015 kita sudah surplus USD 466 juta, dan akhir tahun 2016 meningkat menjadi USD 600 juta. Jadi kita sudah menjadi net exporter dari sektor otomotif,” imbuhnya.

Airlangga pun berharap GIIAS 2017 mampu membantu penjualan kendaraan tahun ini. “Kalau (GIIAS) tahun lalu berhasil jual 20 ribu unit kendaraan yang nilainya hampir Rp6 triliun, tentu tahun ini diharapkan bisa minimal sama mengingat jumlah merek yang ikut lebih banyak dari tahun lalu,” ujarnya.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nangoi menyebut penjualan domestik meningkat 0,3 persen pada semester I tahun 2017. “Penjualan domestik sampai dengan Juni telah mencapai 533.537 unit atau naik 0,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” ungkapnya.

Pameran yang berlangsung pada tanggal 10-20 Agustus 2017 ini diikuti sebanyak 32 merek kendaraan penumpang dan kendaraan niaga serta 10 merek kendaraan roda dua. GIIAS 2017 juga akan menghadirkan 40 mobil baru yang diluncurkan, di antaranya terdapat kendaraan yang pertama kali dalam debut dunia, regional, maupun domestik.

Di samping itu, Menperin berharap agar GIIAS menjadi ajang untuk unjuk diri bagi pabrikan otomotif di dalam negeri terhadap kualitas kendaraan yang diproduksi termasuk dalam peningkatan penggunaan komponen lokal. “Peningkatan konten lokal bisa mendongkrak daya saing indusri otomotif di Indonesia,” ujarnya.

Oleh karenanya, menurut Airlangga, peraturan baru yang akan segera diberlakukan bertujuan juga untuk mendorong peningkatan investasiperakitan kendaraan bermotor hingga pembuatan komponen di dalam negeri. “Saat inI ada 36 perusahaan yang bergerak di sektor otomotif di Indonesia. Nilai tambah terhadap konten lokal diharapkan bisa meningkat,” tuturnya.

Selain itu, ada sekitar 1.500 perusahaan komponen di lapis pertama hingga ketiga yang menunjukkan masih terbukanya peluang ekspor. “Kami pun tengah menggarap kebijakan untuk meningkatkan ekspor dengan menyeragamkan insentif mobil sedan di luar negeri,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, pangsa pasar otomotif di Indonesia merupakan yang terbesar di ASEAN dengan kontribusi sepertiga dari total permintaan pasar ASEAN atau senilai USD 1 triliun dari total USD 2,3 triliun. Potensi ini harus dapat dijadikan basis pengembangan industri otomotif.Tidak hanya di tingkat industri perakitan, namun juga industri komponen dan industri bahan baku sehingga kemandirian otomotif nasional dapat tercapai.

“Dengan potensi yang kita miliki saat ini, tentunya peluang untuk mengekspor produk-produk otomotif unggulan kita sangat terbuka lebar, dan pemerintah tentunya sangat mendukung pelaku usaha untuk tidak hanya bermain di pasar dalam negeri namun juga meningkatkan dan memperluas pangsa pasar internasional,” paparnya.

Airlangga menambahkan, di sektor otomotif ada penambahan 5.000 tenaga kerja sehingga total tenaga kerja mencapai satu juta orang. “Jika digabung dengan industri pendukungnya bisa mencapai lima juta tenaga kerja. Maka itu, industri otomotif memiliki nilai tambah yang juga menyerap banyak tenaga kerja,” jelasnya.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, meningkatnya kebutuhan terhadap sarana transportasi, khususnya kendaraan bermotor berperan dalam memacu tumbuh kembangnya industri otomotif di Indonesia.

“Pengembangan industri otomotif memiliki multiplier effect yang cukup luas, disamping menciptakan aktifitas ekonomi pada kegiatan perakitan dan manufaktur komponen, juga menimbulkan kegiatan ekonomi pada sektor distribusi sampai pada aktivitas pelayanan purna jualnya,” terangnya.

Untuk itu, menurut Putu, pemerintah terus mendorong sektor industri otomotif agar menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional melalui program-program strategis. Langkah inibertujuan, antara lain untuk mengimbangi kompetisi dan impor kendaraan khususnya dari ASEAN, serta mendorong investasi.

“Selain itu, mendorong kemandirian Indonesia di bidang teknologi otomotif melalui penguasaan teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia, serta pengembangan dan pengamanan pasar dalam negeri sebagai basis untuk mengembangkan industri otomotif yang mandiri dan berdaya saing global,” sebutnya. (kemenperin/TPP)