Perekonomian Indonesia Masuk Kelompok 3 Terbaik, Presiden Jokowi Ajak Semuanya Bersyukur

0
132
setkab.go.id

JAKARTA, presidentpost.id – Presiden Jokowi mengajak semua pihak mensyukuri karena dalam pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan negara-negara besar G-20, Indonesia berada pada kelompok 3 (tiga) yang terbaik. Kita hanya kalah dari India dan Tiongkok (RRT).

“Korea Selatan, Meksiko, Jerman, Uni Eropa, Amerika, Arab Saudi, Jepang semuanya di bawah kita jauh. Ini yang sering kita tidak menyadari dan tidak mensyukuri,” kata Presiden Jokowi saat membuka Pasanggiri Nasional serta Kejuaraan Nasional Tingkat Remaja Perguruan Pencak Silat Nasional (Persinas) ASAD 2017, di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Lubang Buaya, Jakarta, Selasa (8/8).

Denganpertumbuhan ekonomi seperti ini meskipun pertumbuhan ekonomi dunia sekarang ini memang sangat melambat dan sangat tidak baik, Presiden menekankan, bahwa negara kita masih pada posisi di atas 5 (lima). “Baru kemarin diumumkan lagi untuk kuartal yang kedua 2017, Alhamdulillah berada pada masih berada pada posisi di atas 5,yaitu 5,01 persen. Ini patut kita syukuri,” ujar Presiden.

Inflasi juga sama. Kalau dulu inflasi 8-9, menurut Presiden, sekarang sudah bisa ditekan,  2015 pada 3,35, 2016 Alhamdulillah 3,02, artinya pengendalian harga ini bisa dlakukan dengan baik. Dijelaskan Presiden Jokowi, memang kita baru bekerja fokus untuk menyelesaikan infrastruktur. Karena ini merupakan hal yang basic, hal yang sangat mendasar sekali dalam rangka persaingan  dengan negara-negara yang lain.

Ia menyebutkan, perbatasandiperbaiki, pelabuhan-pelabuhan besar dibangun meskipun belum selesai tapi terus akan dikerjakan agar segera selesai. Jalan tol di luar jawa juga dimulai, jalur kereta api di luar Jawa kita mulai, airport di pulau-pulau terpencil juga bisa beberapa diselesaikan dalam 3 tahun ini.“Dengan ini apa yang akan kita peroleh? Akan terjadi mobilitas barang dan mobilitas orang yang bisa nantinya menurunkan harga-harga bahan pokok di seluruh tanah air,” terang Presiden.

Diakui Kepala Negara, memang belum semua proyek infrastruktur yang dibangun itu selesai, sehingga belum dirasakan oleh masyarakat. Tetapi kalau ini nanti semuanya tersambungkan, dan insha Allah sesuai dengan target yang dikerjakan, Kepala Negara meyakini bahwa harga-harga diseluruh tanah air ini akan terkendali dan pada posisi yang bisa bersaing dengan negara-negara lain.

Setelah infrastruktur selesai atau dalam proses akan selesai, lanjut Presiden Jokowi, pemerintah akan masuk ke dalam pembangunan sumber daya manusia. Karena kalau airport, pelabuhan, jalan tol, jalur kereta api ini selesai, kemudian sumber daya manusianya tidak disiapkan, karakter anak-anak kita tidak disiapkan, etos kerja anak-anak tidak mulai dilatih, baik di pondok pesantren, baik di diniyah, baik di sekolah-sekolah SD-SMP-SMA/SMK, di universitas tidak disiapkan secara baik, percuma yang fisik-fisik tadi.

Karena apapun yang kita miliki, sumber daya alam tanpa didukung oleh kekuatan sumber daya manusia yang baik, yang mempunyai karakter yang kuat, menurut Presiden, yang namanya sumber daya alam itu malah bisa menjadikan kita malas, manja dan tidak memiliki etos kerja yang baik. “Inilah yang harus kita siapkan karena tanpa itu negara ini tidak akan menjadi sebuah negara yang kua,” ujar Presiden.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi meminta agar misalnya seperti SMA atau SMK  jangan terlalu rutinitas, jangan terlalu monoton. Ia mencontohkan, d i SMK sudah berapa puluh tahun jurusnannya selalu jurusan bangunan, jurusan mesin,  jurusan listrik, padahal dunia sudah berubah begitu sangat cepatnya.

“Mengapa tidak berganti jurusan megatronika, mengapa tidak jurusan logistik, mengapa tidak jurusan retail, mengapa tidak jurusan animasi, mengapa tidak jurusan e-sport. Di dampingi oleh karakter-karakter yang baik, jurusan-jurusan ini akan menjadi kekuatan negara kita,” tutur Presiden.

Fakultas juga sama, Presiden mengaku  selalu menyampaikan kepada Menteri Ristek Dikti, kepada rektor, agar jangan kita juga terpaku pada jurusan-jurusan ekonomi, hukum, sospol. Kenapa kita tidak membangun jurusan-jurusan yang dibutuhkan sekarang ini, misalnya jurusan human resources development, pengembangan sumber daya manusia.

Kepala Negara mengaku Saya senang sekali bahwa basic karakter ini sudah diisi oleh pondok pesantren-pondok pesantren, utamanya Pondok Pesantren LDII. Sebab, Ilmu tanpa iman dan takwa juga percuma, tidak ada artinya.

Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Sekretaris Umum PB Persinas ASAD Teddy Suratmadji, Ketua Umum Persinas ASAD Brigjen TNI (Purn) Agus Susarso, dan Pimpinan Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin KH Kasmudi Assidiqi.

Pada kesempatan ini pula, Presiden Joko Widodo disematkan sabuk kehormatan dan menerima gelar pendekar utama Persinas ASAD Oleh KH Abdul Azis Sulton Aulia. (setkab/TPP)