AESI Targetkan Pengguna Tenaga Surya Capai 5.000 MW Ditahun 2019

0
464

JAKARTA, presidentpost.id – Dalam rangka mengidentifikasi berbagai hambatan dalam membangun industri dan pemanfaatan energi surya di Indonesia, Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bekerja sama dengan Institute for Essential Services Reform (IESR) mengadakan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan topik “Mencari Model Bisnis PLTS untuk Mendukung Industri PV di Indonesia” yang bertempat di Financial Club Niaga, Jakarta, Senin (19/6).

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Umum AESI Dr. Andhika Prastawa, Pembina AESI Ir. Nur Pamudji, Luluk Sumiarso, perwakilan ILMATE Kementerian Perindustrian Zakiyuddin, Ketua Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia Ir. Ali Herman, ‎Director of Business Development PT Contained Energy Indonesia Miroslav Dijakovic, dan Ketua Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) Bambang Sumaryo .

Dalam sambutannya Andhika mengatakan, “Jika saya sedikit flashback, hingga tahun 2017 awal sudah ada 80 megawatt skala nasional.”

Andhika juga mengatakan bahwa ditahun 2019 nanti akan ada 5000 megawatt pengguna dengan skala nasional. Bagi Andhika Hal tersebut merupakan kemajuan yang luar biasa.

“Memang bagi saya dari 80 hingga 5000 megawatt itu merupakan jumpfrog yang sangat luar biasa untuk ke arah sana, dan saya kira salah satu pilarnya adalah PLTS surya atap jika diberi kebijakan dan appropriate,” ungkap Andhika.

Untuk mendorong peningkatan penetrasi teknologi listrik tenaga surya (PV) di Indonesia sehingga dapat tercapai “The First Gigawatt Solar Power” sebelum 2020, berbagai hambatan dalam bentuk regulasi, teknologi/ teknis, nilai investasi, pendanaan, off-taker, dan lain sebagainya perlu segera dihilangkan.

Dalam kesempatannya Nur Pamudji mengungkapkan jika melihat ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang menitik beratkan kepada ekspor oriented, Singapura adalah negara kecil yang kebutuhan Solar PV belasan mega per tahun telah membangun industri panel surya dengan kapasitas 1,5 gigawatt.

Beliau mengatakan, “Di Indonesia ada juga industri perakitan solar PV yang rasanya belum tembus sampai gigawatt, orientasinya juga ekspor.”

“Cuma ya tadi, hanya sebatas perakitan belum sampai seperti Singapura yang dapat membuat mengekspor,” tambahnya.

Adapun Zakiyuddin menyampaikan bahwa energi terbarukan merupakan salah satu fokus pemerintah sebagai energi nasional masa depan karena tingkat perekonomiannya yang tinggi.

Zakiyuddin mengatakan, “Energi terbarukan memilki potensi yang sangat besar di Indonesia, namun hanya 2% yang telah dimanfaatkan dari potensi yang ada.”

“Untuk memanfaatkan potensi energi terbarukan, pemerintah mempunyai target sebesar 23% dari energi nasional,” tutupnya. (Fakhri/TPP)