Indonesia Nomor 5 Jumlah Bayi Prematur, Standard Chartered Bank Sumbang Kamera Retina

0
510

JAKARTA, presidentpost.id – Data Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menunjukkan kurang dari 10% bayi lahir prematur memperoleh pemeriksaan untuk Retinopathy of Prematurity (ROP). Berdasarkan hal tersebut, Standard Chartered Bank (SCB) hari ini (31/5) menyerahkan satu buah kamera retina, Alat yang dipergunakan untuk memeriksa retina bayi lahir prematur, kepada RSCM.

Acara serah terima yang diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan buka puasa bersama bank ini dilakukan oleh Chief Executive Officer Standard Chartered Bank, Rino Donosepoetro, kepada Dr. dr. Nina Kemala Sari, SpPD-KGer, MPH, Direktur Pengembangan dan Pemasaran RSCM. Turut menyaksikan acara serah terima adalah Senior Program Manager Eye Health Helen Keller International Dr. Satya Praba Kotha dan Departemen Medik Ilmu Kesehatan Anak RSCM Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A.

Penyerahan kamera retina ini merupakan bagian dari Seeing is Believing (SIB), sebuah komitmen global bank yang dilaksanakan sejak 2003, bertujuan untuk mencegah kebutaan dan gangguan penglihatan. Salah satu fokus dari program ini adalah penyediaan program deteksi dini bagi anak-anak dengan gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata yang dapat dihindari serta pemberian akses bagi pemeriksaan dan pengobatan mata dengan harga terjangkau.

Rino menyampaikan bahwa, “Bekerja sama dengan Helen Keller International sebagai salah satu mitra program SIB, bank memiliki komitmen untuk mencegah sejak dini gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dihindari. Salah satu bentuknya adalah pemberian bantuan kamera retina kepada RSCM yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bayi prematur yang diduga menderita Retinopathy of Prematurity (RDP/Retinopati Prematuritas).”

Retinopati Prematuritas/ROP adalah kelainan pada mata yang terjadi pada bayi lahir prematur. Kelainan ini disebabkan adanya pertumbuhan pembuluh darah retina abnormal yang dapat menyebabkan perlukaan atau lepasnya retina.

Dalam hal tersebut Rinawati mengatakan, “Mereka mungkin hidup, tapi sangat berpotensi mengalami kebutaan.”

Data dari RSCM menunjukkan pada 2013, kurang dari 10% bayi lahir prematur di rumah sakit selain RSCM memperoleh pemeriksaan ROP. Hal ini disebabkan karena kurangnya pelatihan, kapasitas, dan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi bayi berisiko. Ada juga kasus dimana bayi lahir prematur diluar RSCM terlambat dirujuk untuk diperiksa di RSCM. Namun demikian, dalam sejumlah kasus, bayi prematur dengan risiko ROP masih dapat diobati.

Rinawati juga mengungkapkan, “Saya agak kaget juga ketika tahu Indonesia itu negara nomor lima terbesar angka bayi lahir prematur.”

“800 ribu, mungkin sekarang sudah mencapai angka 1 juta kelahiran prematur per tahun,” tambahnya.

Dalam acara tersebut, CEO Standard Chartered Bank juga berkesempatan untuk memukul bedug yang ada di atas panggung sebagai simbol dimulainya acara buka puasa bersama.

Program SIB dilaksanakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sejak 2003. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan diantaranya pelaksanaan operasi katarak, pemeriksaan mata dan pemberian kacamata, peningkatan capacity building bagi tenaga kesehatan mata, diabetic retinopathy, serta pembuatan fasilitas pendukung pemeriksaan mata di beberapa wilayah di Indonesia.

Sejak tahun lalu, SCB bermitra dengan Helen Keller International dan konsorsiumnya untuk periode 2015-2020 dengan fokus utama penyediaan pemeriksaan dini bagi anak-anak dengan gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata yang dapat dihindari. Beberapa hasil yang telah dicapai sejak tahun lalu diantaranya pembangunan pusat pemeriksaan mata khusus anak di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Makassar, pertama kalinya ada di wilayah Indonesia Timur.

Selain itu juga, tercatat beberapa kegiatan seperti 25 orang anak menerima bantuan operasi mata, 346 anak dengan keterbatasan fisik memperoleh kaca mata gratis, dan sekitar 1.539 anak dengan keterbatasan fisik juga telah menerima edukasi kesehatan matadan beberapa kegiatan capacity building bagi para tenaga kesehatan mata. (Fakhri/TPP)