Lindungi Produk dan Pasar Domestik, Menperin: SNI Sifatnya Mutlak Kalau Mau Jadi Bangsa Industri

0
134

JAKARTA, presidentpost.id – Era globalisasi mendorong terjadinya perdagangan bebas, sehingga membuat negara-negara di dunia melindungi produk dan pasar dalam negerinya serta menghindarigempuran produk impor yang tidakberkualitas. Salah satu kebijakan strategisnya adalah memberlakukan hambatan tarif maupun non tarif.

“Bahkan, Amerika yang selama ini dikenalsebagai negara liberal mulai menerapkan perlindungan terhadap kepentingan strategis dalamnegerinya. Kebijakan tersebut diambil untuk menjamin keamanan dan keselamatan warganegaranya,” kata Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono pada pembukaan Pameran Produk Industri Tekstil dan Aneka Ber-SNI Tahun 2017 di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (16/5).

Sigit mencontohkan, setelah diberlakukannya Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib padapakaian bayi tahun 2014, harga jual produk pakaian bayi asal impor mengalami kenaikan tiga kali lipat dibanding harga sebelum pemerlakuan SNI wajib tersebut, yaitu dari USD8,75 per kilogram(kg) tahun 2014 menjadi USD28,10 per kg pada 2016.

Hal tersebut, menurut Sigit, indikasi bahwa penerapan SNI wajib mampu meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Selain itu, memberikan jaminan terhadap produk yang masuk ke pasar domestik merupakan yang berkualitas dan aman bagi konsumen serta menembuspasarekspor.

“Standar produk merupakan technical barrier yang dapat diterima oleh seluruh negara, karenamemberikan efek positif, antara lain menjamin keamanan, keselamatan dan kualitas produk,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menekankan, regulasi SNI secara wajib terimplementasi melalui Peraturan Menteri Perindustrian. “SNI sifatnya mutlak kalau kita mau masuk menjadi bangsa industri,” tegasnya.

Direktur Industri Tekstil, Alas Kaki dan Aneka, Muhdori menyampaikan, melalui penyelenggaraan pameran,pihaknya ingin produk-produk industri tekstil dan aneka yang telah ber-SNI dapat lebihdikenal oleh masyarakatluas. “Penerapan standar akan mampu meningkatkan surplus neraca perdagangan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, perlu diberikan dukungan antara lain dengan pameran seperti saat ini,” tuturnya.

Kemenperin mencatat, dalam neraca perdagangan, industri tekstil dan aneka memberikan kontribusi positif yang cukup baik. Kelompok industri tekstil dan produk tekstil memberikan surplus rata-rata dalam lima tahun terakhir di atasUSD4 miliar. Sementara itu, kelompok industri aneka memberikan surplus rata-rata dalam lima tahun terakhir di atasUSD8 miliar.

Muhdori juga berharap, produk-produk yang telahtelah memenuhi sertifikasi SNI dapatdiaplikasikan oleh industri lain yang membutuhkan. Misalnya, geotextile yang dapat digunakan pada konstruksi proyek sipil seperti pengecoran pada jalan beton, landasan pesawat terbang, konstuksi pelabuhan laut, serta penahanerosidanbangunan.

Selain itu, sepatu pengamansebagaipelindung kaki bagipekerja di area yang beresiko, serta alat olahraga, pakaian bayi, kain pakaian bayi, kain suiting, mainan kayu edukatif, mainan plastik, boneka, handuk, dan korek api gas untuk dapatdigunakan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah, termasuk digunakan dalam perhelatan Asian Games 2018.

Pameran yang mengambil tema Maju Bersama Produk Industri Tekstil dan Aneka Ber-SNI ini diikuti lebih dari 40 peserta. Kegiatan berlangsung pada tanggal 16-19 Mei 2017 dan dibuka untuk umum mulai pukul 09.00-16.00 WIB. (kemenperin)