Fenomena Gerhana Matahari Kembangkan Destinasi Wisata

0
658

10665765_751551128258640_7217464685040510024_n

Fenomena alam Gerhana Matahari Total (GMT) yang sangat jarang terjadi, kerap menjadi objek penelitian atau bahkan menjadi objek perhatian masyarakat. Tak jarang sejumlah kelompok masyarakat baik mereka yang berlatar belakang penyuka astronomi, pegiat fotografi, para ilmuwan hingga masyarakat biasa menjadi eclipse hunter ketika GMT terjadi. Berbagai kalangan bahkan rela mengeluarkan dana yang tak murah untuk sekedar berada di lokasi lintasan gerhana, demi menyaksikan langsung fenomena Gerhana Matahari Total.

Pada 24 April 2014 lalu, Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN)  Prof. Dr. Thomas Djamaluddin mengumumkan sebuah kabar menarik, yakni GMT akan kembali terjadi pada 9 Maret 2016. Hal tersebut diumumkan Prof. Dr. Thomas Djamaluddin saat bertemu dengan Himpunan Astronomi Indonesia (HAI). Fenomena alam ini  diperkirakan akan dapat disaksikan di sejumlah kota seperti Palembang, Palangkaraya, Palu, Sulawesi Tenggara, dan Halmahera.

Kejadian GMT ini menurutnya juga akan menarik minat bukan saja bagi masyarakat umum melainkan juga masyarakat ilmiah dari dalam dan luar negeri. Pasalnya, peristiwa langka ini belum akan dapat disaksikan kembali  dalam 40 tahun ke depan.

Terkait hal ini, PATA Indonesia Chapter (PIC) sebagai bagian dari badan promosi pariwisata dunia yang beranggotakan sekitar 1.100 industri pariwisata dari 42 negara, melihat  GMT sebagai  salah satu  fenomena yang dapat membantu meningkatkan potensi wisata daerah, dimana GMT bisa disaksikan. Karenanya, PIC melalui kerjasama dengan sejumlah pihak seperti Kementerian Pariwisata dan pemerintah daerah ikut ambil bagian dalam mempromosikan GMT.

Fenomena ini diharapkan dapat membantu mempercepat pengembangan destinasi wisata daerah yang dilintasi oleh GMT serta mendatangkan lebih banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

“Setelah bertemu dengan sejumlah stakeholder, pihak hotel, dan travel agent di Kota Palu, kami mendapat informasi tingginya minat berbagai kalangan terhadap fenomena GMT ini. Bahkan hotel-hotel di Kota Palu rata-rata sudah mulai full book. Meskipun dapat disaksikan dari sejumlah kota lain, mungkin hal tersebut terjadi karena GMT di Kota Palu dapat disaksikan jauh lebih lama dan lebih total. Melihat pengalaman GMT tahun 1983, dimana pemerintah saat itu sudah mempromosikan fenomena itu jauh-jauh hari dan sukses mendatangkan banyak wisatawan maka kita juga ingin memanfaatkan momentum serupa. Diharapkan, dua tahun menjadi waktu yang cukup bagi semua pihak terkait untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga kita mendapatkan hasil yang maksimal melalui fenomena GMT ini,” ujar CEO PATA Indonesia Chapter (PIC) Poernomo Siswoprasetijo.

Lebih lanjut, Poernomo menambahkan dirinya berharap GMT ini juga mampu mendongkrak pamor wisata maritim Indonesia atau bahkan ikut mempromosikan konsep tol laut yang digagas Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. “Selain jumlah wisatawan yang kita harapkan meningkat tentu kita dapat mempromosikan wisata maritim sekaligus konsep tol laut. Misalnya, kapal-kapal yang ada dapat dimanfaatkan untuk mengangkut wisatawan mengunjungi daerah-daerah yang dilintasi GMT atau bahkan kapal-kapal tersebut dapat menjadi hotel terapung untuk mengatasi daya tampung hotel didaerah tujuan. Investasi untuk membangun hotel dalam satu tahun ke depan pun dapat segera dipersiapkan. Momentum GMT ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” imbuhnya.

Indonesia sendiri sempat dilintasi Gerhana Matahari Total pada 11 Juni 1983. Saat itu jaringan televisi nasional TVRI ikut menyiarkan secara langsung peristiwa tersebut. Fenomena alam yang sama sempat kembali terjadi pada 24 Oktober 1995,  dan terjadi cukup singkat yakni selama dua menit. Saat itu  GMT  hanya melintasi pulau kecil di ujung utara Indonesia, Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. GMT 1995 ini merupakan GMT yang terakhir yang melintasi Indonesia pada abad ke-20.

Setidaknya, peristiwa ini diharapkan dapat menggiring para peneliti, fotografer dari berbagai belahan dunia, pecinta astronomi,  mahasiswa lokal maupun asing hingga masyarakat awam untuk  datang ke kawasan-kawasan yang dilintasi GMT.

Gerhana matahari adalah fenomena alam yang terjadi ketika posisi  bulan berada  di antara bumi dan matahari, sehingga posisi bulan menutup sebagian atau seluruh pancaran cahaya matahari ke arah bumi. Walaupun bulan lebih kecil, bayangan bulan mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya karena bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari bumi lebih dekat dibandingkan matahari yang memiliki jarak rata-rata 149.680.000 kilometer. Sementara gerhana matahari total terjadi apabila saat puncak gerhana, piringan matahari tertutup sepenuhnya oleh piringan bulan. Saat itu, piringan bulan sama besar atau lebih besar dari piringan matahari.