Paramount Luncurkan La Bella @Atlanta Village

0
1189

PT Paramount Land meluncurkan klaster baru La Bella @Atlanta Village, seluas 23 hektar. Perumahan yang terletak di lokasi premium di barat Gading Serpong, 50 meter dari tepi Danau Kelapa Dua Serpong itu terdiri dari 192 unit.

Menurut Presiden Direktur Paramount Land, Ervan Adi Nugroho, peluncuran La Bella untuk memenuhi permintaan pasar rumah tapak. “Ini sejalan dengan rencana kami membentuk strata perkotaan yang seimbang. Permintaan pasar rumah tapak masih tinggi dan kami ingin konsisten bermain di ceruk ini,” ujar Ervan, Rabu (5/11/2014).

Sementara itu, Direktur Marketing Paramount Land, Andreas Nawawi mengatakan, pertumbuhan kawasan Gading Serpong saat ini semakin memperkuat posisinya sebagai new economic hub di Jabodetabek. Untuk itu, dia menargetkan klaster La Bella@Atlanta Village dapat meraup penjualan Rp400 miliar.

“Hari ini diluncurkan dan sudah terjual lebih dari 50 unit,” ujarnya. Andreas menjelaskan, unit-unit klaster tersebut terdiri tiga kamar tidur dengan kamar tidur utama seluas 5,25 x 5 meter persegi, tiga kamar mandi, kamar tidur pembantu, serta private carport berkapasitas dua mobil. Klaster ini juga difasilitasi dengan bermacam arena rekreasi.

“Bagi investor dan konsumen, mereka akan lebih memilih rumah tapak ketimbang high rise building, apalagi harganya tidak jauh berbeda,” jelas Andreas.

Klaster La Bella @Atlanta Village merupakan klaster ke sembilan yang diluncurkan Paramount Land dalam tahun 2014 ini. Total unit yang diluncurkan mencapai 2.200 unit rumah. Hingga akhir Oktober lalu, Paramount Land mencatat penjualan lebih dari 86% dari target tahun 2014 sebesar Rp 3 triliun atau meningkat 10 persen dibanding tahun lalu.

Andreas menambahkan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan diterapkan 2015 nanti merupakan peluang bagi Paramount dan pengembang nasional lainnya. “Kami melihat MEA dan perdagangan bebas bukan ancaman bagi pengembang lokal, justru sebaliknya, ini potensi besar,” ujarnya.

Dia mengatakan, kehadiran pengembang asal Singapura, Malaysia, dan Hong tidak akan menggerus pengembang lokal karena hanya pengembang lokal yang mengerti selera masyarakat. “Meski pengembang asing membawa dana besar, mereka tidak mengenal karakter konsumen lokal, pembebasan lahan, dan selera lokal. Jadi, untuk apa khawatir,” katanya. (*)