Bisnis . Event . Gaya Hidup . Headlines . Internasional . Nasional . TPP Indonesia . Siaran Pers

Rupiah Sebagai Instrumen Spekulasi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat melemah mencapai Rp 10.360 per USD pada perdagangan non-deliverable forward (NDF) pada Selasa (11/6). Hal tersebut dipicu minimnya sentimen positif yang berasal dari dalam negeri.

Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar menyatakan, seluruh mata uang di kawasan regional ASEAN bergejolak, akibat ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Untuk itu, ia berharap agar pembahasan APBN-P dapat segera dituntaskan, sehingga tidak ada lagi spekulasi.

Sementara itu Ekonom BCA David Sumual menyatakan, pergerakan rupiah masih akan dibayangi ketidakpastian masalah BBM. Permintaan BBM yang kuat dari dalam negeri membuat para pelaku pasar menilai masalah BBM menjadi faktor penting.

“Permintaan rupiah terhadap dolar masih agak lebar, rupiah akan berada pada kisaran Rp 9.900 sampai Rp 10.200,” jelasnya. Selain itu, menurutnya, turunnya nilai cadangan devisa dalam lima bulan terakhir sebesar $ 7,78 juta akan menambah sentimen negatif pada pergerakan rupiah. Sementara faktor sentimen dari luar belum mampu membuat rupiah bergerak positif.

“Saat ini dolar sendiri sedang melemah terhadap mata uang lain, seperti euro, namun kuatnya sentimen dari dalam negeri membuat rupiah masih berada di zona merah,” jelasnya.          

Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah menjelaskan NDF adalah transaksi spekulasi, mengenai bagaimana kira-kira pergerakan dua mata uang baik dolar maupun rupiah. “Dan diselesaikan dengan dolar dan itu tidak ada under layingnya, sehingga dari sisi BI itu tidak diperkenankan,” jelas Halim.

Penetapan harga valas ini digunakan untuk transaksi aset dan keuangan di asosiasi dan perbankan lokal. Khususnya untuk transaksi Non-Deliverable Forwards (NDF) di pasar modal. Tujuannya mendapatkan keuntungan yang masuk ke buku perdagangan mereka.

Adapun Bank Indonesia telah melakukan usaha untuk meredam pelemahan rupiah, yaitu menaikkan suku bunga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FasBI) atau deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen.

FasBI adalah fasilitas yang diberikan kepada bank untuk menempatkan dananya di Bank Indonesia dalam rupiah.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, usai Rapat Dewan Gubernur BI mengatakan kebijakan itu untuk menjaga stabilitas kondisi moneter, seiring pelemahan nilai tukar rupiah akhir-akhir ini. “Bank Indonesia siap melakukan langkah-langkah yang diperlukan,” ujar mantan menteri keuangan itu.

Selain itu, dia menjelaskan, Bank Indonesia tetap akan memenuhi kebutuhan likuiditas valas dan rupiah di pasar. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pre-emptive dalam menjaga stabilitas moneter.

Agus yakin jika langkah pembahasan APBNP 2013 dapat difinalisasi dan kebijakan BBM dapat dilakukan maka di kuartal ketiga nilai tukar rupiah akan membaik dan pihaknya akan terus menjaga agar posisi rupiah mencerminkan fundamental ekonomi.

Lebih lanjut, Agus mengatakan untuk melakukan respons terhadap  pelemahan nilai tukar rupiah tidak cukup hanya dengan satu instrumen saja, tetapi harus melakukan bauran kebijakan dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian global dan nasional.

Email
Redaksi : inggit[at]thepresidentpost.com
Informasi : sales[at]thepresidentpost.com
Pemasangan Iklan : ulfah[at]thepresidentpost.com

Comments are closed.