Bisnis . Event . Gaya Hidup . Headlines . Internasional . Nasional . TPP Indonesia . Siaran Pers

Ketika Biaya Listrik Lebih Mahal Di Siang Hari

PLTS Bisa Menghemat Biaya Pemakaian Listrik Bagi Konsumen 

Listrik yang dibangkitkan oleh sistem photovoltaic (PLTS) yang ramah lingkungan biasanya diangap mahal dan pengembangannya membutuhkan dukungan kuat pemerintah dalam rangka mengurangi dampak polusi karbon. Harga listrik yang bervariasi menurut kondisi ‘pasar’ seperti di AS membuat PLTS mampu memberi manfaat ekonomis pada konsumen, terutama apabila diterapkan metodeTime of Use (TOU). John Farell seorang ahli PLTS dari Institute for Local Self-Reliance, AS menjelaskan cara kerja metode ini.

Banyak perusahaan pemasok tenaga listrik di negara maju mulai memanfaatkan “smart meters” untuk menyesuaikan harga listrik pada kondisi kapasitas pasokan dan permintaan konsumen. Jika harga listrik ditetapkan mahal pada saat beban puncak yang biasanya terjadi di siang hari, PLTS bisa sangat bermanfaat untuk mengurangi beban biaya listrik bagi konsumen. Menurut data di AS, curah sinar matahari di San Francisco pada musim dingin sekitar 4.46 kWh per m2/hari, sedangkan di musim panas sekitar 6.42 kWh/m2/hari (bandingkan dengan di Jakarta sekitar 4.5 kWh/mr/hari).

John Ferrel menganalisis dampak positif pemanfaatan PLTS dalam hal tarif listrik diterapkan berdasarkan TOU, alias bervariasi sesuai ‘waktu pemakaiannya’ menurut skala tarif yang ditetapkan perusahaan pemasok listrik. Prinsip dasar dari metode ini adalah harga listrik  jauh lebih mahal pada masa beban puncak, misalnya di siang hari dimana kebanyakan orang menurunkan termostat alat pendingin ruangan (AC) mereka.

Sebagai contoh, pelanggan listrik di San Francisco, AS, yang memakai sistem TOU, akan membayar listrik di masa beban puncak (pukul 12.00 hingga pk.18.00) selama musim dingin (November-April) dengan harga 11.1 sen dan 8.3 sen USD/kWh di luar beban puncak. Di musim panas (Mei-Oktober), tarif  di siang hari sebesar 31 sen/kWh, sedangkan di malam hari (off peak) hanya 7.9 sen/ kWh.

Tarif yang relatif berbeda cukup tajam antara ‘peak’ dan ‘off peak’ tsb. bisa memberikan insentif untuk pemanfaatan PLTS, karena panel surya beroperasi maksimal di saat musim panas atau pada siang hari. Manfaat itu nyata bila tarif listrik berubah-rubah setiap jam mengikuti periode peak dan off peak.

 

Manfaat Ekonomis PLTS  Bila Tarif Listrik  TOU’ Diterapkan.

Di San Francisco, sekitar 25% listrik surya dapat dimanfaatkan pada puncak musim panas, ketika tarif listrik di atas 30 sen/ kWh. Pada puncak musim dingin, PLTS hanya menghasilkan 18% listrik yaitu ketika harga listrik beban puncak hanya 11 sen/kWh.

Tarif-tarif diatas hanya menunjukkan tarif yang dikenakan untuk pemakaian listrik di atas golongan/Tier 1 (sampai 3000 kWh/tahun). Pemakaian listrik rata-rata nasional di AS mencapai lebih dari 10,000 kWh/tahun/pelanggan.

Kebanyakan pelanggan di AS memakai listrik antara Tier 2 (3.000 – 6.900 kWh/tahun) dan  Tier 3 (diatas 14.500 kWh./tahun). Untuk pemakaian listrik Tier 1 (level dasar) sampai 3000 kWh/tahun selama masa beban puncak, pelanggan dikenakan biaya 28 sen/ kWh. Namun ketika pemakaian diatas jumlah itu, maka ia akan dikenakan biaya 29.6 sen/kWh.  Sedangkan jika pemakaian meningkat (Tier 3) di musim panas, maka maka pelanggan  akan dikenakan tarif 44.6 sen/ kWh.

PLTS bisa memberikan dua macam manfaat ekonomis dalam skenario ini. Pertama, panel surya bekerja maksimal selama periode puncak (siang hari) dan ke-dua, PLTS dapat menurunkan pemakaian listrik secara keseluruhan. Jadi, listrik  dari PLTS ‘bernilai’ tinggi pada saat beban puncak, disamping itu dapat mendorong pelanggan ke tingkat penggunaan lebih rendah (Tier 1 atau 2), sehingga dapat menekan biaya listrik bagi konsumen.

Ferrel memberikan ilustrasi dampak pemakaian TOU sbb:

  1. Seorang pelanggan memakai 3.000 kWh/tahun (baseline) dan memasang PLTS kapasitas 2 kWp. Sistem tersebut dapat memenuhi 97%  kebutuhan listrik untuk keperluan rumah tangga/tahun. Nilai listrik PLTS yang dihasilkan akan 22% lebih tinggi dari tarif rata-rata  (flat).

 

  1. Seorang pelanggan memakai 6.900 kWh (Baseline dan Tier 2)/ tahun dan memasang PLTS kapasitas 2.5 kWp. Sistem memenuhi 53% kebutuhan listrik  rumah tangga/tahun. Nilai listrik yang dihasilkan oleh PLTS mencapai 36% lebih tinggi dari tarif tetap.

 

  1. Bila pelanggan memakai listrik di Tier 3 (14.500 kWh/tahun), PLTS dengan kapasitas sama hanya akan memenuhi sekitar 20% dari kebutuhan rumah tangga, tetapi akan menghasilkan ‘nilai’ listrik sekitar 253% lebih tinggi dari tarif tetap.

Kesimpulannya, penerapan tarif listrik TOU akan mendorong pelanggan memakai PLTS karena pola pembangkitan listrik PLTS dapat optimal memanfaatkan perbedaan tarif  sesuai dengan masa pemakaiannya. Apalagi bila TOU diterapkan sejalan dengan pola alamiah pembangkitan listrik PLTS, (lihat gambar).

Sayangnya di Indonesia sistem tsb belum bisa diterapkan karena harga listrik ditetapkan relatif konstan (flat) dan disubsidi pula, sehingga akan sulit untuk memberi insentif pemanfaatan PLTS, kecuali diberikan subsidi dari pemerintah yang bisa bersumber pada pengurangan subsidi listrik yang ada.

Artikel diambil dari majalah RESPECTS, Edisi 1 Vol 2.

Email
Redaksi : inggit[at]thepresidentpost.com
Informasi : sales[at]thepresidentpost.com
Pemasangan Iklan : ulfah[at]thepresidentpost.com

Comments are closed.