Bisnis . Event . Gaya Hidup . Headlines . Internasional . Nasional . TPP Indonesia . Siaran Pers

SUKSESKAN JAKARTA MRT 2013

Oleh Hendra Manurung

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-21 telah berakhir 18 November 2012 lalu. Perdana Menteri Kamboja yang menjabat ketua ASEAN saat ini, Hun Sen, mengingatkan perlu upaya lebih keras untuk menghadapi tantangan bersama. Bagaimanapun juga secara regional ASEAN masih menghadapi masalah kesenjangan pembangunan di antara para anggotanya, dimana kendati sudah berkurang, kesenjangan pembangunan di antara negara-negara anggota ASEAN masih signifikan. Situasi ini mengharuskan ASEAN untuk melipatgandakan berbagai upaya untuk percepatan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara dan bagaimana mendistribusikan keajaiban pertumbuhan ekonomi ini. Walaupun hanya tersisa tiga tahun mewujudkan Masyarakat ASEAN 2015.

 

Saat ini secara global negara-negara anggota ASEAN menghadapi berbagai tantangan berupa kerapuhan ekonomi dan pelambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju, di Eropa maupun Amerika Serikat. Situasi demikian semakin sulit karena terjadinya pelambatan pertumbuhan di Asia dan kemelut politik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Tantangan lain berupa masalah harga minyak yang tinggi, ketahanan pangan, bencana alam, perubahan iklim, terorisme, dan kejahatan transnasional. KTT kali ini berlangsung pada saat pencapaian besar ASEAN, terutama dalam pengembangan tiga pilar dalam Roadmap Masyarakat ASEAN. Ketiga pilar tersebut yaitu: (1) Komunitas Politik-Keamanan (Political Military Community); (2) Komunitas Ekonomi (Economics Community), (3) Komunitas Sosial-Budaya (Socio Cultural Community).

 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyoono berharap melalui KTT ASEAN ini akan ditemukan solusi bagi percepatan langkah menuju Komunitas ASEAN pada 2015. Berbagai tantangan akan sulit dihadapi secara sendiri-sendiri dan memerlukan pendekatan komprehensif dan kooperatif melalui kerangka kerjasama ASEAN (Kompas, 19/11/12).

 

Arah kebijakan ekonomi nasional pada era Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN 2015 (ASEAN Free Trade Agreement) sebaiknya semakin dikuatkan pada pasar domestik. Itu strategi menghadapi regionalisasi pasar (Hatta Rajasa, Menko Perekonomian, Kompas, 26/11/12). Hal ini sangat beralasan mengingat investasi akan selalu mendekati sumber daya alam (natural resources) dan pasar yang menjanjikan investasi global (global marketable market).

 

Pemerintah pusat nampaknya sudah tak sabar agar proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta segera dibangun 2013. Kajian ulang Gubernur Joko Widodo (Jokowi) terhadap proyek MRT dianggap sudah tidak tepat. Menurut Deputi Menko Perekonomian bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kementerian Pekerjaan Umum, Luky Eko Wuryanto, meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo segera merealisasikan pembangunan MRT. Proyek MRT ini sudah siap dilaksanakan karena telah melalui tahapan pengkajian yang sangat terpercaya.

Indonesia merupakan negara di ASEAN yang pertama kali melontarkan proyek tersebut sebagai bentuk alat transportasi massal yang mampu mengurangi kepadatan kendaraan pribadi di jalan raya.

 

Saat ini Indonesia sudah tertinggal 20 tahun dalam relisasi MRT, dimana Indonesia termasuk salah satu negara di ASEAN yang menggagas pertama kali tentang MRT sejak tahun 1990an, terutama bagaimana upaya mengatasi kemacetan parah di wilayah Jabodetabek. Pemerintah daerah DKI Jakarta perlu segera merealisasikan proyek tersebut mengingat makin semrawutnya kemacetan dalam kota Jakarta, dan diperkirakan pada tahun 2018 DKI Jakarta mengalami kemacetan total.

 

Diakui bahwa proyek MRT DKI Jakarta antara Kota ke Lebak Bulus akan dibangun dalam 3 jenis lintasan, Proyek MRT JAKARTA ini telah ditanda tangani di Jakarta 25 Maret 2009 dengan tahap petama 4 stasiun bawah-tanah dan 8 stasiun layang rencana pelaksanaan pembangunan kontruksi tahun 2009-2010. Namun demikian melalui jalur Kota hingga Dukuh Atas (sekitar 7 Km) akan dibangun subway mengingat jalur ini lebih memungkinkan dengan subway dengan alasan tehnis banyak rintangan, antara lain banyak sekali persimpangan, ada Tugu Monas (Bung Karno di tahun 1960an pernah meminta agar tidak ada lintasan kereta yang elevated melalui Monas, namun sudah terlanjur dibangun lintas tengah di jalur lintasan Gambir ternyata elevated), ada Harmoni, dll. Sementara dari Dukuh Atas ke Monas dapat dimanfatkan di bawah jalur hijau tengah Jl Thamrim, sedangkan di sekitar Monas juga akan memanfatkan jalur tengah jalan, kemudian dari Harmoni sampai Kota dapat memanfatkan di bawah Kali dan jalan (Hayam Wuruk/Gajah Mada). Menurut  PT. MRT, salah satu metode kalau di bawah suatu litasan jalan atau kali adalah yang disebut digali terbuka kemudian ditutup (open cut-and-cover methods), sedangkan untuk yang tidak memungkinkan secara ini dipakai pengeboran terowongan bawah tanah (deep bore tunneling methods, http://jakartamrt.com).

 

Seperti diketahui Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) masih mengkaji proyek MRT karena beberapa pertimbangan. Hal ini disebabkan oleh sebegitu besarnya biaya pembangunan proyek MRT, alasan pemilihan jalur, sarana dan prasarana pendukung, asumsi jumlah penumpang MRT, dan lain-lain. Berdasarkan rencana seharusnya proyek MRT Jakarta harus sudah dibangun awal 2013 dan diharapkan akhir 2016 sudah beroperasi dari Lebak Bulus hingga Dukuh Atas Bundaran HI. Namun seperti diketahui, beberapa waktu lalu Jokowi sempat mengungkapkan ada tiga permasalahan yang terus dipertanyakan terkait proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta.

 

Ketiga masalah utama tersebut, yaitu: (1) Persoalan return of investment atau waktu pengembalian investasi (ROI). Hal ini penting, mengingat sangat menentukan pengembalian pinjaman utang triliunan rupiah kepada JICA Jepang; (2) Persoalan intensitas penumpang yang akan menggunakan MRT saat nanti telah beroperasi. Menurut Jokowi hal ini perlu diperhitungkan secara matang karena akan berpengaruh terhadap pendapatan dan pengembalian investasi; (3) Persoalan mengenai penggunaan dana pinjaman untuk investasi MRT, dimana menggunakan skema pinjaman bersyarat ketat. Salah satu yang menonjol adalah masuknya para kontraktor asal Jepang dalam proyek MRT.

 

Sebagai gambaran dapat dijelaskan bahwa total nilai proyek proyek MRT Jakarta tahap I sekitar 144 miliar yen untuk jalur Lebak Bulus-Dukuh Atas (+/- Rp 15 triliun), dimana proyek ini dianggap kemahalan oleh Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) untuk ukuran rute MRT yang hanya sepanjang +/-15,7 Km. Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta Tribudi Rahardjo, data yang disampaikan menurut data capital cost/km yang dituliskan dalam Jurnal yang diterbitkan pada 2008 di Eropa yang ditulis oleh Bent Flyvbjerg dkk, dimana capital cost/km tersebut sudah di eskalasi ke 2002 berdasarkan US Construction Cost Index (Kompas, 8/11/2012). Data MRT Singapore yang tahun operasinya 1990, semula capital cost/km nya adalah US$ 37,3 juta, namun setelah dilakukan penyesuaian menggunakan US construction cost index, cost tersebut menjadi US$ 54,5 juta /km di 2002 atau terjadi 10 tahun lalu.

 

Walau bagaimanapun untuk membandingkan dengan proyek MRT Jakarta dengan berbagai proyek MRT di negara-negara Asia Pasifik, perlu dilakukan penyesuaian harga ke 2012. Ada beberapa data tambahan yang juga dapat digunakan sebagai acuan, dimana tahun operasinya sekitar lima tahun lalu (2007) dan yang saat ini masih dalam masa pembangunan seperti halnya Shanghai Metro (China) dan Bangalore Metro (India). Maka dengan membandingkan dengan proyek yang sama dengan rentang yang tak terlalu jauh maka perbandingannya “apple to apple“. Hal ini tentunya juga sudah mempertimbangkan spesifikasi/kondisi teknis, tahun pembangunan, eskalasi harga, dan terutama segragasi strukturnya seperti halnya komposisi struktur bawah tanah, layang dan pada ground level.

 

Sementara menurut data pemerintah, menyatakan bahwa capital cost/km proyek MRT Jakarta adalah Rp 1 Triliun/Km, didasarkan pada informasi perkiraan biaya proyek (plafon pinjaman) yang telah disepakati oleh Pemerintah Indonesia (Kementerian Perhubungan, Bappenas dan Pemprov DKI) dengan pemberi pinjaman (JICA), yang tertuang dalam Minutes of Discussion (MoD). Bila membandingkan informasi pihak Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) yang pernah memberi masukkan kepada pemerintah provinsi DKI Jakarta, proyek MRT DKI Jakarta ini dua atau tiga kali lebih mahal ketimbang proyek MRT di Singapura. Namun ternyata, proyek MRT di Singapura ini telah dikerjakan sejak tahun 1994.

 

Direncanakan proyek MRT Jakarta yang berbasis rel rencananya akan membentang kurang lebih  110,8 Km, meliputi dua koridor utama (Jakarta MRT Main Corridor) , yaitu koridor selatan-utara yang jadi prioritas, Koridor Lebak Bulus menuju Kampung Bandan (Jakarta MRT southern to northern corridor), sepanjang 23,8 Km. Sementara itu koridor timur-barat masih tahap kajian, dari timur Bekasi-Balaraja (Jakarta MRT eastern to western corridor), sepanjang87 Km.

 

Dalam hal realisasi proyek MRT Jakarta ini diharapkan untuk koridor Selatan-Utara (Koridor Lebak Bulus-Kampung Bandan) sepanjang kurang lebih 23,8 Km. Koridor Lebak Bulus-Kampung Bandan dilakukan dalam 2 tahap, dimana: (1) Tahap I yang akan dibangun terlebih dahulu menghubungkan Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI (Dukuh Atas) sepanjang15,7 Kmdengan 13 stasiun penghubung, antara lain sebanyak 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun 2016 ini; (2) Tahap II dibangun menghubungkan Bundaran HI (Dukuh Atas) sampai dengan Kampung Bandan sepanjang8,1 Kmdengan 7 stasiun penghubung.

 

Setiap bisnis tentu mempunyai kisah perjalanannya sendiri. Diakui pula bahwa usahawan yang memiliki determinasi dan berwatak optimis akan bertarung hingga akhir sampai perusahaan yang buntung menjadi untung. Banyak contoh perusahaan yang berjuang keras hingga meraih sukses. Misalnya Bosowa Group, Garuda Indonesia, Lion Air, sejumlah media elektronik, dan indutri-industri besar lainnya. Hal yang sama dialami perusahaan Jababeka. Tahun 1996, perusahaan ini bukanlah perusahaan yang patut diperhitungkan dalam kancah bisnis properti nasional. Berbagai tampilannya masih kalah jauh dibandingkan berbagai grup usaha properti yang menggurita. Namun perusahaan ini mampu bekerja ekstra keras.

 

Dalam diam, perusahaan ini telah membangun berbagai proyek sarana dan prasarana infrastruktur yang dipandang publik hingga Morotai di kawasan timur Indonesia. Sukses dengan proyek pertama membangun Kawasan Industri Jababeka di Cikarang Jawa Barat; disusul proyek kedua membangun wilayah kawasan wisata Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah; proyek ketiga di Tanjung Lesung Banten; proyek keempat pengembangan Kawasan Industri Terintegrasi Jababeka dengan membangun kawasan hunian, industri, pendidikan, dan kesehatan terpadu (Jababeka Integrated Industrial Estate); proyek kelima, proyek kesepuluh, proyek keseratus, dan seterusnya. Karakter perusahaan yang ekspansif namun penuh kehati-hatian dalam berbisnis (prudent) menunjukkan bahwa perusahaan ini melesat menggapai kinerja cemerlang. Memasuki abad 21 perusahaan Jababeka sudah menjadi raksasa properti yang disegani (1996-2012), menuju Masyarakat ASEAN 2015.

 

* Hendra Manurung, Dosen Tetap Hubungan Internasional, Fakultas Bisnis & Hubungan Internasional (FBI) Universitas Presiden, Kota Jababeka, Cikarang 

 

 

Email
Redaksi : inggit[at]thepresidentpost.com
Informasi : sales[at]thepresidentpost.com
Pemasangan Iklan : ulfah[at]thepresidentpost.com

Comments are closed.