Bisnis . Event . Gaya Hidup . Headlines . Internasional . Nasional . TPP Indonesia . Siaran Pers

TINJAUAN EKONOMI : PERKEMBANGAN KELAS MENENGAH

LAJU PERTUMBUHAN ASIA

Dengan adanya resesi ekonomi dunia negara-negara berkembang, terutama di Asia, menghadapi periode yang penuh dengan tidak kepastian. Penuh dengan bagian-bagian yang positif diselingi dengan beberapa segi kelemahannya.

Dalam kaitan ini dapat dikemukakan dua perkembangan penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Pertama, mengenai perkembangan laju pertumbuhan BDP (GDP growth). Kedua, adanya pertumbuhan kelas menengah yang sangat pesat di Asia. Kedua-duanya termasuk bagian-bagian yang positif perkembangannya.

Mengenai pertumbuhan ekonomi dapat disaksikan dengan jelas bahwa Asia, terutama Asia-Timur sedang menarik perhatian dunia. Karena perkembangannya yang menakjubkan.  Walaupun dunia sedang terkena masalah krisis keuangan,  yang telah berlangsung sekitar empat tahun, Asia tetap tangguh dan mencapai laju pertumbuhan yang tercepat didunia.

Dalam waktu 10 tahun (2000-2010) pertumbuhan Asia adalah jauh lebih pesat daripada pertumbuhan dunia pada umumnya. Lebih-lebih jika dibandingkan dengan negara-negara maju di Eropa maupun di Amerika. Bahkan juga lebih pesat dari Brasil, negara yang palin maju di Amerika Latin. Menurut data dari Bank Dunia Indonesia menempati tempat yang ngetop di Asia; sesudahnya China dan India .

 

Kecepatan laju pertumbuhan dapat membawa berbagai dampak dan implikasi yang positif. Antara lainnya dapat menurunkan rasio kemiskinan dan rasio pengangguran. Walaupun diakui bahwa dalam jumlah absolut banyaknya orang miskin dan jumlah pengangguran masih besar angkanya.

Suatu perkembangan yang semula tidak diperkirakan ialah bahwa pertumbuhan ekonomi menghasilkan juga jumlah kelas menengah yang semakin besar.

Oleh dunia internasional diakui bahwa peranan Asia sudah sangat positif dalam menopang ekonomi dunia. Juga bahwa Asia merupakan wilayah ekonomi yang dinamis. Salah satu sebab penting ialah tumbuhnya kelas menengah yang besar jumlahnya. Dan merupakan SDM (sumber daya manusia) yang sangat dinamis di banyak negara Asia.

Tidak hanya dalam bidang konsumsi dan pengeluaran yang besar (big spending). Melainkan juga dalam turut membangun negara yang lebih modern dan efisien sesuai dengan tuntutan zaman. Perkembangan-perkembangan ini yang justru dialami oleh Asia, khususnya di East Asia. Dengan demikian peta dan arsitektur Asia dewasa ini sudah jauh lebih maju daripada beberapa dekade yang lalu.

PERTUMBUHAN KELAS MENENGAH

Dalam tulisan Peter Drysdale dari EAF disampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Asia dalam beberapa dekade ini telah memungkinkan adanya pengurangan jumlah kemiskinan sebesar 750 juta manusia.

Disamping itu, jumlah warga Asia yang masuk Kelas Menengah adalah luar biasa besarnya. Menurut perkiraan informal lebih dari 500 juta warga Asia sudah tergolong Kelas Menengah. Caranya mengukur Kelas Menengah berbeda-beda sehingga angka-angkanya sangat bervariasi.

Menurut data tersebut, China dan Hongkong mempunyai Kelas Menengah yang paling besar. Dikuti oleh India, Indonesia dan Korea Selatan.

Menurut perkiraan berbagai pakar ekonomi, Asia akan memiliki warga kelas menengah yang mungkin akan berjumlah sekitar satu milyar. Sebagian besar akan berkedudukan di China dan mungkin India. Tetapi Indonesia-pun akan termasuk negara-negara yang akan menghasilkan kelas menengah yang besar sekali.

Dengan adanya kelas-menengah yang besar jumlahnya diperkirakan bahwa kemungkinan besar Asia juga akan merobah strategi pembangun. Tidak lagi hanya bergantung pada perdagangan internasional. Tetapi akan juga menerapkan  paradigma “consumption-led growth”.

Dalam paradigma dewasa ini faktor konsumsi dapat  mengambil peranan yang sangat penting. Banyak dana-dana besar dikeluarkan untuk berfungsi sebagai stimulus. Justru  untuk menggerakkan demand di negara-negara maju yang semakin merosot segi permintaannya.

Golongan kelas menengah di Asia umumnya terdiri dari warga Asia yang lebih muda; yang baik pendidikannya; terdiri dari kaum muda yang lebih profesional dan lebih berorientasi internasional.

Golongan ini mudah mengikuti perkembangan di dunia yang kompleks, antara lainnya dalam bidang keuangan dan fiskal, bidang perdagangan dan bidang investasi.

PERTUMBUHAN INDONESIA:

Di Indonesia-pun ada hubungan yang cukup erat antara laju pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan kelas menengah. Perkiraan dari berbagai sumber dapat cukup memberikan gambaran mengenai perkembangan kelas menengah di Indonesia.

Tahun yang lalu Bank Dunia telah datang dengan angka-angka sebagai berikut: tahun 2003 jumlahnya adalah 81 juta dan meningkat sampai 131 juta pada tahun 2010. Setiap tahun 7 juta yang akan masuk kelas menengah.

Perkiraan Bank Nomura dari Jepang menyampaikan angka-angka sbb: 2004 berjumlah 1,6 juta yang meningkat sampai 50 juta tahun 2011 dan memperkirakan akan mencapai angka 150 juta pada tahun 2014. Ada pekiraan lain yang sudah memastikan bahwa jumlahnya sekarang sudah mencapai 134 juta.

Nampaknya publik Indonesia tidak cukup memperhatikan perkembangan kelas menengah di Indonesia. Tidak disadari bahwa kelas menengah tersebut sudah berjumlah sekian besarnya sehingga melebihi jumlah penduduk di negara-negara ASEAN lainnya, termauk Malaysia, Thailand dan Filipina.

Menurut beberapa angka yang dikeluarkan oleh instansi-instansi (a.l. oleh CLSA) menunjukan bahwa sebagian besar (k.l. 71%) dari kelas menengah yang tergolong “taraf pengeluaran $2-$4 per kapita”.

STRATEGI YANG EFEKTIF

Bagi Indonesia kelas menengah dapat berkembang sebagai SDM (sumber daya manusia) yang vital untuk membangun Indonesia sebagai negara yang modern dan sejahtera.

Tetapi keadaan sampai sekarang masih belum jelas. Fenomena  yang sudah semakin jelas ialah bahwa kelas menengah merupakan “big spender – big konsumer”; yang semata-mata sudah tidak mengenal batas-batasnya. Di masa yang lampau terkenal banyaknya OKB (orang kaya baru) yang akhirnya tidak diketahui kemana larinya, dan apa bekas-bekasnya. Jangan sampai terulang fenomena demikian.

Ada berbagai pertanyaan mengenai kelas menengah yang masih sensitif, antara lainnya; a) selain sebagai konsumen besar apakah mereka sudah mulai bergerak kearah posisi  podusen, b) bagaimana peranan mereka dalam bidang perpajakan, c) juga dalam bidang pembayaran kembali kredit-kredit yang semakin besar jumlahnya.

Dilihat dari segi positif, dibanyak negara yang sudah maju atau yang berstatus negara berkembang, kelas menengah mengambil posisi sentral (merupakan suatu demographic dividend bagi negara-negara berkembang).

Dilihat secara sederhana struktur demografi Indonesia maka sudah jelas kelas menengah harus mengambil posisi sentral. Terutama yang sudah merupakan “ kelompok menengah — the middle group” yang memang belum besar jumlahnya. Yang diperkirakan merupakan sekitar 18% dari klas menengah. Yang berarti kelompiok tersebut berjumlah sekitar 20 juta.

Nampaknya sebagian dari jumlah tersebut sudah bergerak dalam bidang ekonomi-bisnis. Banyak dari mereka sudah mulai sukses diberbagai jenis usaha dengan memanfaatkan berbagai gadget dan penggunaan internet dsb.

Perlu ditekankan bahwa golongan kelas menengah pada umumnya masih sangat memerlukan peningkatan daya kreasinya, daya produktif dan daya profesional-nya dimasing-masing bidang.

Memang benar anjuran Bank Dunia agar Indonesia  menciptakan para “professionals” secara masal; jadi secara besar-besaran. Maksudnya agar kelas menengah dapat berfungsi sebagai penggerak atau lokomotif untuk usaha transformasi struktural  Indonesia di waktu-waktu yang akan datang. (A/S)

Email
Customer Services : sales[at]thepresidentpost.com
Circulation : ulfah[at]thepresidentpost.com
Editorial : inggit[at]thepresidentpost.com

Comments are closed.

Email
Customer Services : sales[at]thepresidentpost.com
Circulation : ulfah[at]thepresidentpost.com
Editorial : inggit[at]thepresidentpost.com