Bisnis . Event . Gaya Hidup . Headlines . Internasional . Nasional . TPP Indonesia . Siaran Pers

Pendidikan Manajemen Tentang Konsep Keberlanjutan

Pemerintah, korporasi, dan organisasi yang berpikiran maju dan punya visi jauh kedepan perlu membangun kesadaran dan kemampuan untuk membangun masyarakat masa depan yang tidak hanya makmur tetapi juga berkelanjutan. Visi mengenai konsep keberlanjutan ini dinyatakan dalam berbagai upaya yang berkaitan dengan hampir semua kegiatan yang ada di dalam masyarakat dan bertujuan untuk menjaga, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas lingkungan. Di sektor ekonomi kita menyaksikan peningkatan investasi dalam berbagai bentuk yang mengarah pada  berbagai macam ‘solusi hijau’. Tetapi untuk merealisasikan visi tsb, upaya yang diambil perlu dilandasi fondasi yang kuat terutama di bidang pendidikan yang mengajarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan tata kelola yang baik (good governance).

Dewasa ini semakin banyak lembaga bisnis (korporasi) yang memperhatikan dan mengukur performa tidak hanya dari sisi finansial saja tetapi juga dari segi lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (faktor Environmental, Social, and Governance /ESG).  Kriteria ‘baru’ ini mempunyai berbagai indikator tersendiri yang harus diperhatikan dalam penilaian performa sebuah organisasi. Aspek lain yang terkait dengan ESG yang terkandung dalam prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance)  adalah pentingnya pengambilan langkah-langkah transparatif dalam isu-isu yang menyangkut ESG. Tujuan dari semua itu adalah untuk menghasilkan sistem pelaporan kepada para pemangku kepentingan yang mengaitkan performa finansial dengan ESG.

Maraknya perhatian global pada isu-isu semacam itu secara radikal membentuk kembali tataran bisnis dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kemampuan dan kepekaan yang perlu ditingkatkan oleh para politisi, birokrat, dan eksekutif perusahaan di semua level, terutama di saat mereka menjalani pelatihan manajemen dan tata kelola di lembaga pendidikan tinggi. Sebuah buku yang memuat kumpulan berbagai hasil studi di University of Gloucestershire Center for Active Learning (UK) memberi istilah pada kemampuan dan kepekaan tersebut sebagai “sustainability literacy (2009).

Namun jika kita mengaitkan isu ini ke seluruh ranah pembangunan kapasitas sumber daya manusia di abad ke-21 ini, maka mau tidak mau pertanyaan juga harus ditujukan pada jenjang pendidikan dasar dan dini. Masalah yang dihadapi oleh lembaga pendidikan nasional saat ini adalah bagaimana kita dapat memastikan bahwa cara yang kita pakai untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat saat ini tidak mengingkari kesejahteraan generasi masa depan? Bagaimana kita dapat memberikan inspirasi kepada lembaga-lembaga pendidikan itu agar menghasilkan tokoh panutan (‘champion’) yang menghayati konsep keberlanjutan? Artikel ini tidak akan membahas mengenai masalah ini pada pendidikan tingkat dasar, tetapi terbatas pada kerangka pengembangan pendidikan manajemen dan kepemimpinan yang bertanggung jawab serta menciptakan lembaga-lembaga riset yang mampu menghasilkan solusi-solusi berkelanjutan.

Banyak ahli pendidikan dan peneliti yang menunjukkan adanya hubungan kuat antara gaya atau model manajemen, pemikiran strategis, dan kinerja para eksekutif. Berdasarkan kesimpulan ini, mutu pendidikan manajemen merupakan kunci utama untuk menghasilkan manajer dan profesional berkualitas yang mampu menanggapi berbagai tantangan dalam konsep keberlanjutan.

Enam Prinsip Pendidikan Manajemen Yang Bertanggung Jawab (PRME)

Pada tahun 2007, sebuah kelompok yang beranggotakan 450 sekolah bisnis dari seluruh dunia dibawah United Nations Global Compact (UNGC) meluncurkan platform bernama Principles for Responsible Management Education (PRME). Platform ini ditujukan untuk pengembangan prinsip-prinsip pengajaran umum di tataran global sehingga menghasilkan siswa yang mampu menciptakan nilai keberlanjutan dalam bisnis maupun masyarakat. Tujuan lainnya adalah untuk membangun kemitraan dengan para manajer dan perusahaan agar diperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap kendala sosial ataupun lingkungan yang sering dihadapi. Kolaborasi ini diperlukan agar materi pengajaran yang diberikan mampu memberikan pandangan yang realistis (sense of reality) terhadap masalah yang dihadapi.  Di lingkungan akademis global saat ini, konsep corporate social responsibility (CSR) dan berbagai konsep keberlanjutan sudah diterapkan oleh banyak universitas maupun lembaga pendidikan tinggi lainnya, namun tidak dimasukkan ke dalam kurikulum utama pendidikan bisnis pada umumnya. Oleh karena itu PRME menjadi stimulus yang tepat bagi sekolah bisnis dan perguruan tinggi di seluruh dunia untuk secara bertahap menerapkan kurikulum, metodologi riset dan pengajaran, serta strategi kelembagaan dalam menghadapi aneka tantangan maupun peluang bisnis di abad ke-21 ini.  Berikut, ke-enam prinsip pendidikan manajemen ini yang telah disetujui dan dideklarasikan dalam kerangka UNGC tahun 2007 lalu:

 

Prinsip 1| Tujuan: Untuk membangun kemampuan mahasiswa menghasilkan nilai-nilai keberlanjutan bagi bisnis maupun masyarakat luas dan mampu bekerja dalam kancah ekonomi global yang terbuka (inklusif) dan berkelanjutan.

 

Prinsip 2| Nilai-nilai: Untuk memasukkan nilai-nilai tanggung jawab sosial di tataran global sebagaimana yang digambarkan dalam inisiatif internasional seperti United Nations Global Compact.

 

Prinsip 3 | Metode: Untuk menciptakan kerangka pendidikan, materi, proses, dan lingkungan yang mampu memberikan pengalaman belajar yang efektif dalam bidang kepemimpinan yang bertanggung jawab.

 

Prinsip 4 | Riset: Melibatkan riset yang konseptual dan empiris yang mampu menambah pemahaman kita mengenai peran, dinamika, dan dampak kegiatan perusahaan untuk menciptakan nilai sosial, lingkungan, dan ekonomi berkelanjutan.

 

Prinsip 5 | Kemitraan: Untuk berinteraksi dengan para manajer perusahaan sehingga memperluas pengetahuan kita tentang berbagai tantangan yang mereka hadapi untuk memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan serta bersama-sama mengeksplorasi pendekatan-pendekatan efektif untuk menghadapi tantangan tersebut.

 

Prinsip 6 | Dialog: Untuk memfasilitasi dan mendukung dialog serta debat di antara para pengajar, mahasiswa, bisnis, pemerintah, konsumen, media, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok-kelompok yang berkepentingan tentang berbagai isu-isu penting yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial global dan  isu keberlanjutan.

 

 

 

Berbagai Kegiatan Terbaru

Di antara sekian banyak kegiatan sampingan dan forum-forum yang diselenggarakan selama berlangsungnya konferensi RIO+20 di Rio de Janeiro, Brazil, Juni 2012, yang lalu, UNGC menyelenggarakan Global Forum for Responsibility Management Education ke-3  terkait dengan agenda Rio+20 tentang Corporate Sustainability Forum. Forum ini mencapai deklarasi akhir untuk mendukung berbagai langkah di masa depan yang antara lainnya adalah: (1) Mengajarkan konsep-konsep pembangunan yang berkelanjutan; (2) mendorong dilakukannya penelitian pada pembangunan yang berkelanjutan; (3) mendirikan kampus ‘hijau’; (4) mendukung upaya-upaya untuk menciptakan komunitas yang berkelanjutan; (5) melibatkan diri dan berbagi informasi melalui sejumlah kerangka kerja internasional PBB.

Berbagai isu-isu baru ditambahkan ke dalam Forum pembahasan, termasuk panduan anti korupsi dalam membangun kurikulum baru. Forum tersebut juga menghasilkan laporan berjudul “Fighting Poverty Through Management Education” yang sangat esensial dalam hal pembangunan negara, khususnya bagi negara berkembang dimana praktek korupsi marak dilakukan. Seperti kita ketahui, korupsi merupakan masalah yang sangat serius dan dapat mengganggu proses pembangunan sebuah Negara tertutama terkait dengan program mengatasi kemiskinan.

Dalam acara RIO+20,  sekitar 300 sekolah bisnis terkemuka dan perwakilan dari berbagai universitas telah mencapai kesepakatan berdasarkan komitmen-komitmen konkrit untuk melaksanakan agenda yang dicantumkan dalam peta-jalan untuk pendidikan menajemen sampai tahun 2020. Meskipun keanggotaan di forum tsb bersifat sukarela, tetapi para anggota dituntut untuk bertanggung jawab atas komitmen mereka. Jika mereka tidak memberikan laporan progres secara rutin maka keanggotaan mereka pada Global Forum akan ditinjau kembali.

Baru-baru ini sebuah organisasi Amerika Serikat yang dikenal dengan Academy of Management menyelenggarakan pertemuan di Boston, Massachussetts. Lembaga ini merupakan asosiasi professional untuk para ilmuwan terkemuka yang mengabdikan diri dalam usaha menciptakan dan menyebarkan ilmu pengetahuan tentang manajemen dan organisasi di Amerika. Salah satu kegiatan yang dilakukan yaitu memberi bimbingan kepada kelompok kerja yang menekuni pendidikan manajemen di sektor ekonomi informal, dan membahas perlunya pengembangan panduan untuk menciptakan pembaharuan kurikulum.

Beruntung perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Boeing dan General Electric (GE ) sudah mendukung inisiatif untuk memberikan pendidikan manajemen dan melakukan upaya-upaya berkelanjutan. Permintaan dari kalangan korporasi untuk pendidikan manajemen yang mumpuni telah memainkan peran penting dalam tumbuhnya inisiatif di sekolah-sekolah bisnis yang menekankan prinsip-prinsip terkait dengan konsep keberlanjutan dan lingkungan. Secara spesifik, perusahaan-perusahaan tersebut menekankan tiga garis besar dalam sistem pelatihan manajemen mereka yaitu: mengembangkan kemampuan untuk menyempurnakan strategi keberlanjutan perusahaan, mengaitkan konsep keberlanjutan dengan manajemen operasional perusahaan, menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan yang dihasilkan dari kolaborasi antara perusahaan-perusahaan dan program-program studi manajemen dan bisnis.

Untuk menunjang praktek-praktek pengelolaan lingkungan perusahaan, lembaga-lembaga seperti World Environment Center (WEC) melakukan pengukuran dan pembandingan praktek-praktek yang dilakukan oleh berbagai perusahaan dalam bidang pengelolaan lingkungan. Organisasi nirlaba  yang didirikan pada tahun 1974 ini bersifat global, independen, dan tidak berpihak dan bertujuan untuk memajukan pengembangan konsep keberlanjutan melalui berbagai praktek bisnis yang dilakukan oleh para anggotanya (perusahaan) dan bermitra dengan pemerintah, organisasi multilateral, lembaga swadaya masyarakat (LSM), universitas, dan para pemangku kepentingan lainnya. Organisasi ini memiliki badan pengelola internasional, berbagai anggota dari sektor industri, dan membangun relasi kuat dengan pemerintah dari negara masing-masing anggota.

WEC menciptakan solusi bisnis berkelanjutan melalui berbagai proyek khusus di pasar yang sedang berkembang; menyelenggarakan pertemuan para pimpinan perusahaan untuk membentuk pemikiran strategis dalam berbagai topik terkait konsep keberlanjutan; dan memberikan penghargaan tahunan – Gold Medal Award- kepada industri-industri unggul. Keberadaan organisasi yang diakui dunia seperti WEC ini dapat mendorong perusahaan-perusahaan untuk berkembang secara berkelanjutan dan berbagi informasi tentang keberhasilannya dengan rekan-rekan mereka melalui WEC.

“Kampus Hijau” Indonesia

Ide pemberian penghargaan kepada perusahaan maupun organisasi yang mempromosikan proyek hijau dan konsep berkelanjutan telah diajukan oleh organisasi seperti Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan kelompok aktivis lingkungan lainnya yang ada di Indonesia. Tujuan diusulkannya ide tersebut adalah untuk memberi pengakuan dan apresiasi kepada perusahaan, organisasi, termasuk lembaga pendidikan yang memenuhi kriteria seperti mempromosikan, melakukan inovasi, dan mempraktekkan ide-ide hijau. Tetapi untuk beberapa alasan, ide tersebut tidak pernah terealisasikan.

Namun sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, salah satunya Universitas Negeri Diponegoro, Semarang (UNDIP) yang berusaha membangun sebuah ‘kampus hijau’ melalui berbagai program spesifik. Rektor UNDIP, Profesor Sudharto Hadi merespon secara tertulis pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh majalah RESPECTS mengenai ‘gerakan hijau’ di kampusnya.  Sudharto Hadi mengatakan bahwa para mahasiswa dan staf kampus memerlukan lingkungan yang lebih kondusif untuk meningkatkan performa mereka. “Kami harus membuat mereka merasa senyaman mungkin ketika mereka berkegiatan di kampus, karena hal ini dapat menimbulkan rasa memiliki bersama sehingga dengan demikian membuat mereka merasa bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan kerja agar tetap bersih, apik, dan hijau.”

Rektor Undip itu lebih lanjut mengatakan bahwa dia bersama seluruh civitas akademika  telah menjalankan kegiatan “Kampus Hijau” mulai dari menanam pohon, mengolah sampah, membersihkan saluran pembuangan dari sampah dan kotoran, menjaga keasrian lingkungan kampus dan menyediakan alat-alat transportasi internal yang ramah lingkungan seperti sepeda. Menurut dia, saat ini kampusnya bisa menyediakan lebih dari 800 sepeda yang gratis digunakan oleh para mahasiswa maupun karyawan dari setiap fakultas di dalam lingkungan kampus. Fasilitas ini disambut baik oleh warga kampus. UNDIP juga menjalankan program efisiensi dan hemat energi di lingkungan kampus dengan memakai lampu hemat energi, mengurangi dan mengatur pemakaian AC, dsb. Untuk mendukung program ini Sudharto bahkan mematikan AC di ruang kerjanya sendiri.

Dalam hal program studi yang berkaitan dengan lingkungan, UNDIP seperti universitas lainnya di Indonesia juga menawarkan program studi lingkungan dan manajemen lingkungan dari jenjang S1 sampai S3. Tetapi sama seperti universitas lain juga, ide dan konsep keberlangsungan belum dimaksukkan secara holistik di dalam kurikulum program-program studi lainnya, padahal konsep ini bertujuan untuk memastikan para mahasiswa ‘melek’ tentang konsep berkelanjutan (sustainability literate)  setelah menyelesaikan studi mereka.

Meskipun studi manajemen lingkungan cukup populer, kebanyakan dari para lulusan program studi tsb tidak menerapkan ilmunya untuk membantu masyarakat agar beralih-sikap dan pikiran menuju konsep keberlanjutan yang kini kian diperlukan. Seperti diketahui, para lulusan Program Studi Lingkungan kebanyakan bekerja sebagai konsultan lingkungan untuk melaksanakan “studi lingkungan” yang diwajibkan dalam rangka pengembangan proyek-proyek tertentu sesuai persyaratan yang tercantum dalam UU Perlindungan Lingkungan Hidup no.32/2009. Tetapi laporan studi lingkungan (populer disebut AMDAL) yang dilakukan para ‘konsultan’ tersebut kadang-kadang dipertanyakan kualitasnya. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh desakan yang lebih bersifat komersial yang dihadapi oleh para pemilik proyek yang ingin memenuhi kewajiban membuat studi lingkungan agar bisa memperoleh ijin dari yang berwajib untuk melaksanakan proyek mereka. Dalam hal ini para pemilik proyek menganggap studi lingkungan semacam itu lebih merupakan ‘beban tambahan’ ketimbang sebagai rasa tanggung jawab yang tulus untuk menjaga lingkungan.

Tetapi setidaknya ada satu perguruan tinggi swasta, Universitas Dharma Persada di Jakarta yang menawarkan program S2 bidang Energi Terbarukan (ET). Profesor Kamaruddin Abdullah, Kepala Program Studi tsb mengatakan bahwa program yang diasuhnya saat ini merupakan satu-satunya program yang dikhususkan untuk menjawab isu terkini tentang ET. Namun ketika RESPECTS bertanya apakah Dharma Persada sudah mencoba untuk menerapkan Enam Prinsip PRME sekaligus menjadi anggota PRME, Prof. Kamaruddin yang hingga tahun lalu masih menjabat sebagai Rektor Dharma Persada tersebut, mengaku belum lama mengetahui tentang adanya program PRME. Kamaruddin menduga bahwa saat ini tidak banyak universitas atau sekolah bisnis di Indonesia yang menjadi anggota dari organisasi semacam itu. Ketika RESPECTS  mengecek daftar peserta PRME, dari ke 650 institusi hanya ada satu Universitas dari Indonesia yaitu Universitas Katolik Soegijapranoto di Semarang  yang terdaftar sebagai anggota PRME, sedangkan banyak institusi lain di Asia dan Afrika menjadi anggota aktif. Hal ini sangat disayangkan mengingat Indonesia memiliki ribuan lembaga pendidikan tinggi. Ini mengindikasikan bahwa kebanyakan universitas di Indonesia tidak atau belum melihat isu keberlanjutan sebagai ilmu strategis yang dibutuhkan oleh generasi muda. Keadaan ini perlu diubah jika negara ingin membangun ekonomi hijau seperti yang sering didengung-dengungkan oleh para pemimpin nasional kita.

Trend global seperti yang disebutkan di atas menandakan bahwa konsep keberlanjutan akan berkembang pesat dan menjadi sebuah konsep bisnis yang memainkan peran penting di dalam proses pendidikan bagi manajer dan pemimpin masa depan. Transisi ini sudah pasti memerlukan waktu, kerjasama yang aktif, dan pembangunan jaringan antar lembaga-lembaga publik maupun swasta. Tetapi gerakan ini merupakan kesempatan terbuka untuk terjadinya pertukaran ilmu dan keterampilan di tingkat global diantara para profesional internasional yang sudah terlatih untuk mengembangkan strategi konsep keberlanjutan demi menciptakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat dunia. Persaingan global antar bangsa yang akan datang mungkin akan dimenangkan oleh mereka yang mempersiapkan para pemimpin masa depan melalui penanaman prinsip-prinsip keberlanjutan.

Jika semua bangsa menjadikan isu ini sebagai salah satu strategi yang terpenting, maka akan lebih mudah bagi dunia untuk menyepakati cara menyelamatkan planet bumi ini dari kerusakan yang parah.

Email
Redaksi : inggit[at]thepresidentpost.com
Informasi : sales[at]thepresidentpost.com
Pemasangan Iklan : ulfah[at]thepresidentpost.com

Comments are closed.